Time Is Money

Posted on: Mon, 12 May 2008 - 05:48 By: amed

Banjarbaru, 12 Mei 2008

"Time Is Money"
"Waktu Adalah Uang"

Proverb usang kapitalis ini menyarankan kita agar menghargai waktu, mengisinya dengan hal-hal berguna misalnya ngeblog, dan tidak menyia-nyiakannya dengan kegiatan tanpa manfaat seperti ngeblog (loh?).

Akan tetapi sepertinya sekarang pepatah itu berhadapan dengan situasi paradoks, utamanya sejak heboh-heboh mau kenaikan BBM. Saat ini terjadi antrean panjang di berbagai SPBU, sehingga untuk mengisi bensin saya harus rela menunggu sekitar satu jam. Sementara itu, pedagang BBM eceran yang entah dari mana mendapatkan bensin :mrgreen: kembali mulai jadi spekulan dadakan dengan menaikkan harga hampir dua kali lipat beberapa ribu rupiah.

Dan saya terjebak dalam dilema yang sepele cukup membingungkan.
- Apakah saya harus ikut antri di SPBU, yang berarti buang waktu satu jam, beberapa kali seminggu?
- Atau beli eceran saja, yang artinya saya buang uang sekian ribu rupiah untuk para spekulan itu?

Sementara situasi yang perlu jadi pertimbangan saya adalah:
- Saya seorang CPNS yang harus pamer menunjukkan integritas yang baik dengan datang dan pulang tepat waktu.
- Saya juga harus tiba on-time di lembaga kursus di mana saya sedang mengumpulkan kredit untuk sertifikasi guru :mrgreen: ...
- Mobilitas saya juga cukup tinggi karena:
==> Jarak rumah ke sekolah sekitar 13 km, bolak-balik 26 km.
==> Jarak rumah ke kursus sekitar 5 km, bolak-balik 10 km.
==> Tiap 1-2 minggu saya juga kembali ke peradaban ke Banjarmasin yang jaraknya sekitar 35 km, bolak-balik 70 km.
==> Belum terhitung mengantar ibunya Nadira jalan-jalan ke taman, toko buku, arena bermain, atau shopping...
- Motor saya sendiri adalah Yamaha Sigma butut 2 tak keluaran '98 yang walau tidak sehebat motor Farid apalagi Land Cruiser-nya Gubernur dalam menyedot bensin, tetap terhitung agak boros. Belum lagi alokasi untuk oli samping dan oli mesin.

Tangki bensin motor saya sendiri bisa menampung hingga 20-22 ribu jika diisi di SPBU, dengan tarif Rp. 4500/liter. Bayangkan saja berapa yang harus dikeluarkan untuk para spekulan pengecer tersebut jika mereka mereka mematok harga dua kali lipat beberapa ribu rupiah lebih mahal...

Saya hanya bertanya-tanya, dengan semakin sering dan berulang-ulangnya kejadian seperti ini saya alami, apakah para pemegang kebijakan itu tidak berpikir untuk meninjau ulang strategi humas yang mereka buat agar aksi "panic buying" dan penimbunan+spekulasi seperti ini tidak terjadi lagi di kemudian hari?

Mari kita tanyakan sama-sama ke mereka aja deh...

Terkutuklah mereka yang memaksa rakyatnya tua di jalan SPBU

*Kutipan dimodif semena-mena dari Supernova*