Generasi Instan Dan Rasa Iri

Posted on: Tue, 09 Sep 2008 - 15:29 By: amed

Usai membaca tulisan Geddoe yang membahas lagu Fitter Happier, jujur saja saya merasa begitu IRI. Ya, iri se iri-irinya. Soal apa? Bukan cuma soal konten posting yang begitu fasih ditulis dalam bahasa Inggris itu, tapi lebih ke dari mana Geddoe mengetahui ada lagu sehebat Fitter Happier. Ya, kalau dihitung-hitung, Fitter Happier dirilis ketika dia masih berusia 7-8 tahun! Lalu dari mana dia tahu lagu tersebut? Jawabannya, hampir pasti, dari INTERNET. Ya, Internet.

Lewat Internet, dunia jadi terasa semakin sempit. Bukan cuma soal jarak yang memendek, tapi juga rentang waktu. Seolah-olah, semua hasil budaya dan peradaban manusia beribu-ribu tahun telah terkompilasikan dengan begitu lengkap di Internet. Project Gutenberg, YouTube, dan Rapidshare, sekadar menyebut beberapa contoh, jadi bukti nyata betapa yang dulu begitu berharga sekarang terlihat begitu mudah didapatkan.

Dan bicara soal masa lalu, saya jadi teringat masa remaja saya dulu *menulis hal ini kok saya merasa jadul banget sih?* di mana saya tidak punya akses internet, belum ada YouTube, belum kenal iPod dan mp3, serta masih berkutat dengan kotak-kecil-dari-plastik-dengan-gulungan-pita-di-dalamnya yang bernama kaset.

Saya menghabiskan masa kecil di lingkungan penyuka musik; punya bapak yang kolektor kaset Idris Sardi dan Gunadi Bersiul, punya ibu yang fans fanatik Bang Haji, tinggal di belakang bioskop tua yang kerap memutar film-film India, sekampung dengan warga Tionghoa yang gemar memutar lagu-lagu Mandarin. Kombinasi yang memungkinkan saya menjadi musisi organ tunggal.

Akan tetapi saya baru mulai berminat dengan musik (populer) di penghujung SD, itupun masih sangat minimalis; hanya kenal beberapa bait lagu Malaysia semacam Dermaga Saksi Bisu *lirik Pakacil ;) *, satu lagu Java Jive, dan beberapa hits dari P-Project.

Ketika SMP, akses ke musik mulai terbuka, terutama karena pengaruh kawan dan lingkungan sekolah yang dekat dengan pasar. Seingat saya, saat kelas 1 mayoritas siswa adalah fans berat Nike Ardilla dan band asal Malaysia, UK's (yang kerap kami eja sebagai u-ka-es).

Kelas 2, seorang teman wanita bernama Indah mengubah orientasi musik saya, dari Melayu-oriented menjadi Barat-oriented. Dia memperkenalkan saya pada Michael Learns to Rock, Rick Price dan Richard Marx. Dan di kelas 2 inilah saya pertama kali membeli kaset hasil dari menabung sebulan penuh: Peter Cetera - One Clear Voice, yang sampai saat ini masih tersimpan di lemari walau kualitas suaranya entah bagaimana... Seingat saya saat SMP, saya memang cuma mampu beli kaset 2-3 biji setahun, itupun harus menabung sekuat tenaga, dan memilih pulang sekolah jalan kaki ketimbang naik angkot.

Kelas 3, karena pengaruh seorang teman pria, sebut saja T namanya, saya ikut teracuni boyband! Saya bertransformasi menjadi penyuka Take That dan Boyzone. Alih-alih, kaset yang saya beli justru album NOW 3, yang dari situ saya mulai mengenal U2 lewat lagu Staring At The Sun.

SMA, saya hampir tidak pernah beli kaset, selain karena krismon, juga karena lumayan banyak teman yang rata-rata anak-orang-kaya-yang-sanggup-beli-kaset-mana-saja-yang-mereka-mau. Selera musik saya jadi semakin liar bebas... Hingga akhirnya saya memilih britpop sebagai aliran paling "memukul telinga" saat itu... Blur, Oasis, Radiohead, dan Manic Street Preachers jadi pelampiasan.

Kuliah sempat jadi fase kemunduran. Jujur saja selera musik rekan seangkatan kala kuliah cukup memprihatinkan :( di mana lebih didominasi lagu Indonesia dan boyband baru macam Westlife... Saya harus menunggu setahun demi mendapatkan rekan yang lebih sesuai dalam bicara musik, walau masalah selera kami tetap berbeda, yaitu orang ini.

Akhirnya saya memutuskan berdikari. Memilih sendiri musisi yang saya suka, tanpa interferensi dan intervensi siapa-siapa. Dan saya memilih U2. Lewat The Best of 1980-1990, saya mempelajari kedahsyatan sejarah musik mereka. All That You Can't Leave Behind kemudian menjadi kaset paling fenomenal yang pernah saya beli (saya bahkan sempat membelinya dua kali!). Sejak saat itu kalau ditanya band paporit, selalu saya jawab dengan lugas, U2. HaiKlip-nya saya koleksi. Sempat bikin account e-mail di U2fan.net yang sekarang sudah almarhum. Dan kini, dengan bangga menjadi member milis U2-Indonesia.

Berikutnya adalah The Beatles. Sebenarnya kebetulan saja, karena saya begitu terkesan dengan I Am Sam dan OST-nya yang dipenuhi lagu daur ulang mereka ternyata cocok di kuping saya. Untuk Beatles, saya memang hanya menyukai musik mereka di era psychedelic, utamanya pasca Album Rubber Soul.

Selanjutnya, Coldplay. Album Parachutes adalah album "cinta" saya. Grup ini mengawali invasi kedua musisi Inggris Raya ke telinga saya, bersama Travis, Keane, dan tentunya yang paling heboh, Muse. Selama kuliah, beberapa kaset masih sempat saya beli, setidaknya hingga akhir 2004 (Album HTDAAB U2), sebelum saya diterima bekerja di radio, mengenal jazz dan audiophile.

Saya pun rajin menjarah harddisk kantor mengoleksi Anne Murray, Anita Baker, Frank Sinatra, Barry White dan bahkan Michael Buble! Dan lewat koneksi internet, saya jadi rajin berburu album-album yang dulu sempat menemani masa muda saya... Album Sixpence None The Richer, Up-nya R.E.M, OST City of Angels, dan This Is My Truth-nya Manics adalah sebagian dari album-album yang saya download.

Ya, download, atau dari CD mp3 yang bisa didapatkan di emperan seharga sepiring nasi goreng... atau copy dari harddisk teman, atau rip CD original-nya... Begitu mudah, begitu cepat, begitu... murah...

Dan saya tidak sendirian. Banyak juga rekan seumuran saya, bahkan yang lebih tua, rajin mengeksploitasi masa lalu mereka dengan berburu lagu-lagu "terbaru" (meminjam bahasa Mr. Fortynine). Alasannya beragam, dari nostalgia hingga karena lagu baru jaman sekarang jelek dan banyak menye-menye-nya.

Tidak hanya generasi saya yang katrok ini yang melakukannya. Generasi yang jauh lebih muda, lahir di akhir 80-an hingga pertengahan 90-an, kini punya akses lebar ke internet, mengenal download, forum, torrent dan sebangsanya, juga melakukan hal yang sama, dengan intensitas yang bisa dibilang jauh lebih gila-gilaan. Mereka bahkan bisa mengumpulkan materi yang ada jauh sebelum saya lahir.

Tidak, bukan soal apakah pembajakan itu harom atau tidak yang ingin saya bahas. Saya hanya terkesan pada betapa internet mengubah dunia. Seperti yang saya tulis di atas, internet mendokumentasikan hampir semua hal yang bisa didokumentasikan, termasuk di dalamnya musik.

Geddoe dan generasinya memperlihatkan dengan gamblang apa itu generasi instan: pragmatis, berpatokan pada hasil akhir, dan tentunya, berwawasan lebih luas. Dunia seakan hanya sesempit dua kata, Google dan Wikipedia. Apapun bisa mereka (dan kita) cari dan tanyakan di sini. Tidak, saya tidak sedang kecewa dengan generasi ini, atau mengutuk teknologi yang makin maju ini, lalu harus menutup diri, mengurung diri dalam gua dan mendiskreditkan zaman yang kian mendekati akhir dunia, buat apa?

Seperti yang sudah saya bilang, saya justru terkesan... Walau ternyata masih ada pertanyaan yang mengganjal: apakah generasi ini, generasi instan ini, dengan segala kemudahan dan kecepatan akses informasi yang mereka miliki, masih bisa memiliki sesuatu yang sempat disentil Sora, yaitu rasa menghargai? Kalau ada bagaimana selayaknya manifestasinya?

Usai membaca tulisan Geddoe, saya menyadari salah satu wujud penghargaan tersebut adalah: terinspirasi dari budaya pop yang kita terima, dan membuat sesuatu yang mencerahkan dari hasil inspirasi itu. Dan tulisan Geddoe itu menurut saya adalah mahakarya yang sangat mengagumkan. Hasil dari pemikiran yang, entah dangkal atau justru mendalam, namun jelas analitik. Dan ini wujud penghargaan terhadap Fitter Happier, salah satu lagu yang buat saya juga sangat istimewa, walau ternyata saya tak mampu menghasilkan tulisan sehebat punya Geddoe.

Dan karena hal itulah, saya merasa begitu IRI.