Bahasa

Posted on: Mon, 06 Oct 2008 - 15:02 By: amed

Salah satu obrolan yang sempat diangkat Pakacil di rumahnya adalah soal bahasa. Waktu itu (seingat saya) Pakacil mempersoalkan imbuhan ter- yang bisa berfungsi sebagai paling, di-, sekaligus tidak sengaja. Di sini muncul pertanyaan kenapa Bahasa Indonesia seolah tidak punya aturan yang benar-benar baku dan mengikat terkait pemaknaan dan imbuhan. Muncullah proposisi kalau Bahasa Indonesia memang masih terlalu "payah" dan tata bahasanya jauh dari sempurna.

Saya tidak bermaksud menyanggah atau mendukung proposisi di atas. Di sini saya hanya ingin menyampaikan sedikit yang saya tahu dan saya anggap relevan.

Saya hanya ingin coba membandingkannya dengan Bahasa Inggris: apakah Bahasa Inggris, yang usianya selisih hampir 1000 tahun dengan Bahasa Indonesia sudah cukup "sempurna" kalau dikatakan harus punya aturan pemaknaan yang baku.

#1: suffix (akhiran) -er bisa berfungsi sebagai:

- Agent (pelaku) yang melakukan tindakan atau aktivitas tertentu (contoh: driver)
- Pembentuk makna komparatif "lebih" dan dipakai bersama "than" (contoh: bigger than)
- Pembentuk kata benda (contoh: sampler)
- dan lain-lain (total ada sekitar 10 makna)

#2: awalan in- bisa berfungsi sebagai:

- Pembentuk makna sifat negatif/not (contoh: infertile)
- Pembentuk makna sifat tidak ada/kurang (contoh: inappreciable)
- Penunjuk arah ke dalam/menuju/ke arah (contoh: influx)

#3: Phrasal verb Ini yang lebih menakutkan lagi, karena dengan hanya gonta-ganti preposition/adverb, sebuah kata juga bisa gonta-ganti arti. Contohnya?
Look = melihat, memandang
Look out! = awas!!
Look into = menyelidiki
Look down on = meremehkan
Look up = meningkat kualitasnya
Look after = menjaga

Turn = berubah arah
Turn against = melawan
Turn out = pergi ke pesta
Turn (orang) out = mengusir
Turn in = pergi tidur
Turn down = menolak (proposal)
Turn (alat) on = menghidupkan
Turn (orang) on = merangsang (secara seksual)

Nah, ternyata absurditas makna toh juga terjadi di Bahasa Inggris.

Ide di kepala manusia memang (hampir) tak berbatas, namun jumlah kata yang tersedia amat sangat terbatas. Ambiguitas memang tak terelakkan, dalam kata maupun imbuhan. Hanya saja, tidak berarti kita berhak menuding itu sebagai kelemahan salah satu bahasa... Bahasa hanyalah sekumpulan simbol untuk berkomunikasi. Dan kita memang harus membedakan pembahasan Bahasa secara semantik dan secara gramatikal.

Saya teringat kembali ketika mengambil Mata Kuliah Bahasa Indonesia dulu, salah seorang mahasiswa (yang juga mengaku wartawan salah satu media cetak kampus) dengan berapi-api menuding ejaan Bahasa Indonesia sebagai ejaan yang dipaksakan, kebanyakan aturan yang tidak perlu, tidak efisien, dan sederet kelemahan lainnya. Dan dengan alasan tersebut, dia memilih tidak peduli dengan segala kaidah bahasa yang sudah disusun dan memilih menggunakan Bahasa Indonesia sesuai dengan hawa nafsu kenyamanan membaca saja.

Dan, ah, semua kelemahan itu, saya rasa sebenarnya tak bisa serta merta ditudingkan ke sebuah bahasa yang baru berusia beberapa puluh tahun... Bahasa yang seribu tahun lebih tua pun nyatanya masih tidak punya tata aturan yang so called "baku" soal makna. Ya, Bahasa Indonesia memang masih berkembang. Dari akarnya di pesisir Melayu, hingga "keterpaksaan"nya dalam menyerap beribu-ribu kata asing, menurut saya Bahasa ini menunjukkan perkembangan yang, jujur saja, amat pesat. Bahkan mungkin jauh lebih pesat dari perkembangan Bahasa Inggris sekalipun.


+++++

Tidak, saya menulis ini bukan karena Oktober adalah Bulan Bahasa. Ini murni kebetulan...