ST12, Lethologica Dan Kemampuan Mengapresiasi

Posted on: Sat, 14 Feb 2009 - 17:57 By: amed

Tak bisakah sehariiii saja, saya tidak mendengarkan lagu Es Teh 12???

Begitulah kira-kira bunyi pesan pendek yang dikirim seorang rekan yang (mungkin) merasa eneg dengan tingginya airplay ST12, satu grup musik asal Bandung yang membawakan lagu-lagu bernuansa melayu.

Suka tidak suka, rela tidak rela, tak bisa dipungkiri, lagu-lagu ST12 saat ini memang merajai blantika musik Indonesia. Bersama kompatriat mereka semacam d'Masiv, Vagetoz, Hijau Daun atau Kangen, lagu-lagu mereka diputar di mana-mana; di radio, televisi, angkot, tukang cukur, warnet, minimarket, komputer Pakacil, ulang tahun Kayuh Baimbai, dan lainnya.

Band ini memang laris, itu tak saya bantah. Pun, di postingan ini saya tidak ingin membahas kualitas musikalitas band-band yang saya sebutkan di atas, karena memang bukan itu yang mau saya bicarakan, biar penikmat musik sendiri yang menilainya.

Kembali ke topik awal, soal ST12, ada satu hal yang menurut saya unik dari salah satu lagu mereka yang berjudul "Putri Iklan." Di salah satu baris yang berbunyi "Kan kupeluk dia sampai mati" kerap, kalau tidak bisa saya bilang selalu, saya mendengar ada bagian yang error sehingga lagunya menjadi "Kan kupeluk-kupeluk dia sampai mati..." Ya, baik lagu yang di tukang cukur, di Plasa Telkom, di rumah Pakacil, semuanya error-nya di tempat yang sama!

Kalau ini memang kesalahan dari "sononya," artinya memang mereka (ST12 atau produsernya) yang, sengaja maupun tidak, membuat lagu ini jadi mengandung bug, mungkin tidak masalah, walaupun rasanya kok ya aneh aja kok sebuah lagu dibiarkan error begitu sampai fase produksi dan pemasaran.

Lain halnya kalau ternyata lagu dengan error tersebut saya dengar di berbagai tempat karena "sumber" lagu bajakannya lah yang sama! Nah, di sinilah justru saya merasa ada yang terlalu kelewatan...

Kalau memang ST12, sebagai musisi yang pendapatan utamanya mestinya dari penjualan kaset atau CD, berapa juta keping yang harusnya sudah mereka hasilkan? Kenyataannya, penjualan album mereka ya relatif biasa-biasa saja, dan mestinya bisa jauh lebih baik dari sekadar double-platinum... RBT? Ya, bolehlah laku di situ, tapi ya tetap saja kan produk mereka itu album berisi selusin lagu, bukan cuplikan tiga puluh detik yang bahkan tidak didengarkan oleh si pembeli?

Nah, saya jadi ingin bertanya-tanya, kalau Anda, yang sedang membaca tulisan saya saat ini beranggapan kalau lagu-lagu ST12 bagus, sudah terpikirkah untuk mengapresiasi mereka? Sudah terpikirkah untuk tidak sekadar men-download atau meng-copy album mereka dari harddisk teman anda, melainkan membeli kaset atau CD mereka yang aseli?

Tidak, ini bukan masalah idealisme atau "It's a crime" seperti yang diungkapkan seorang teman yang kebetulan nge-host di acara Music Legend-nya Duta TV Selasa malam lalu. Ini masalah menghargai karya orang lain yang kita anggap benar-benar bagus. Dan pemikiran semacam ini kerap bergumul dalam pikiran saya.

Jujur saya akui, saya juga sering mendownload beberapa ribu lagu dari Internet, who hasn’t? who hasn’t?™. Hanya saja, alangkah indahnya kalau kita mengimbanginya juga dengan membeli apa yang benar-benar kita sukai? Dan untuk hal ini, saya memberi kredit khusus untuk Fortynine, yang jika menyukai satu band atau musisi akan mengoleksi lengkap kasetnya. Ya, meskipun ia kerap memaki-maki Dewa dan Ahmad Dhani, toh kenyataannya koleksi albumnya lengkap tuh dari album satu sampai album terbaru. 

Saya masih ingat kala SMP dulu, dengan uang saku hanya 500-1000 rupiah sehari, saya masih paksakan sempatkan diri menabung demi membeli album DEWA 19 Terbaik-Terbaik. Nah, sekarang, setelah punya penghasilan sendiri, kenapa membeli album musik harus terasa berat ya? Jangan bilang harganya mahal kalau beli pulsa aja masih bisa, ke warnet aja masih bisa, makan di gerai makanan cepat saji masih bisa.

Akhirnya secara sepihak saya putuskan, kalau saya akan mengapresiasi musik dari musisi Indonesia yang saya anggap bagus, dengan membeli album original mereka. Padi sudah saya koleksi sejak lama, tapi ini kasus khusus. Sekarang, pertanyaannya, kenapa harus cuma Padi? Dan setelah mempertimbangkan matang-matang, maka, saya memutuskan, band berikutnya yang harus saya koleksi lengkap dari awal CD-nya adalah:

Letto Lengkap 3 Album

Ya, beberapa bulan ini saya coba menyisihkan penghasilan saya untuk hunting album-album awal Letto. Dan ketika akhir bulan lalu mereka meluncurkan album ketiga yang berjudul Lethologica, saya segera ke toko kaset untuk kemudian dihadang pertanyaan yang "itu lagi itu lagi":

CD-nya gak ada gambarnya mas?

Beberapa musisi yang masuk pertimbangan, dan mungkin juga akan saya koleksi albumnya: Jikustik, Mocca, Drive, La Luna, dan Clubeighties... Ada saran?