Build Me A Son (A Father's Prayer)

Posted on: Sun, 09 Aug 2009 - 17:20 By: amed

Ketika seorang rekan mengeksploitasi masa lalunya menceritakan kembali kenangan manisnya dulu, saya ikut teringat pula satu peristiwa mengesankan yang pernah saya alami.

Peristiwa tersebut (juga dinukilkan di paragraf kelima oleh rekan saya di atas) adalah saat malam terakhir, sebelum saya dan rekan-rekan serta adik-adik mahasiswa baru meninggalkan Belangian. Malam terakhir, seperti kemping-kemping kebanyakan, kerap disebut juga malam keakraban; di mana berbagai atraksi ditampilkan oleh peserta dan panitia. Saya juga tampil, sebentar, main gitar untuk mengiringi lagu Seputih Hati-nya Agnes Monica. Tapi bukan itu yang ingin saya ceritakan, selain tentu tak ingin menceritakan betapa berantakannya permainan saya saat itu...

Saya teringat kembali sebuah puisi yang dibacakan oleh Ka Ollie, senior kami. Puisi tersebut dibawakan dengan begitu baik oleh beliau, membuat saya terpukau, dan membuat saya cukup lama termenung, merenungi maknanya, kala itu.

Delapan tahun berselang, puisi yang sama kembali saya hayati; kali ini lewat media maya. Saya temukan kembali lengkap dengan teks aslinya yang masih berbahasa Inggris. Dan kini, setelah membaca lagi, ternyata saya dapati keluasan makna dalam puisi tersebut, jauh melebihi hanya sekadar harapan seorang ayah kepada anaknya.

Puisi yang saya maksud adalah puisi karya Jenderal Douglas MacArthur, A Father's Prayer. Berikut naskah aselinya:

Build me a son, O Lord, who will be strong enough to know when he is weak, and brave enough to face himself when he is afraid; one who will be proud and unbending in honest defeat, and humble and gentle in victory.

Build me a son whose wishbone will not be where his backbone should be; a son who will know Thee and that to know himself is the foundation stone of knowledge.

Lead him I pray, not in the path of ease and comfort, but under the stress and spur of difficulties and challenge. Here let him learn to stand up in the storm; here let him learn compassion for those who fail.

Build me a son whose heart will be clear, whose goal will be high; a son who will master himself before he seeks to master other men; one who will learn to laugh, yet never forget how to weep; one who will reach into the future, yet never forget the past.

And after all these things are his, add, I pray, enough of a sense of humor, so that he may always be serious, yet never take himself too seriously. Give him humility, so that he may always remember the simplicity of true greatness, the open mind of true wisdom, the meekness of true strength.

Then, I, his father, will dare to whisper, have not lived in vain.

Dan berikut terjemahannya:

Tuhanku... Bentuklah puteraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk mengetahui kelemahannya. Dan, berani menghadapi dirinya sendiri saat dalam ketakutan. Manusia yang bangga dan tabah dalam kekalahan. Tetap Jujur dan rendah hati dalam kemenangan.

Bentuklah puteraku menjadi manusia yang berhasrat mewujudkan cita-citanya dan tidak hanya tenggelam dalam angan-angannya saja. Seorang Putera yang sadar bahwa mengenal Engkau dan dirinya sendiri adalah landasan segala ilmu pengetahuan.

Tuhanku... Aku mohon, janganlah pimpin puteraku di jalan yang mudah dan lunak. Namun, tuntunlah dia di jalan yang penuh hambatan dan godaan, kesulitan dan tantangan. Biarkan puteraku belajar untuk tetap berdiri di tengah badai dan senantiasa belajar untuk mengasihi mereka yang tidak berdaya.

Ajarilah dia berhati tulus dan bercita-cita tinggi, sanggup memimpin dirinya sendiri, sebelum mempunyai kesempatan untuk memimpin orang lain. Berikanlah hamba seorang putra yang mengerti makna tawa ceria tanpa melupakan makna tangis duka. Putera yang berhasrat Untuk menggapai masa depan yang cerah namun tak pernah melupakan masa lampau.

Dan, setelah semua menjadi miliknya... Berikan dia cukup kejenakaan sehingga ia dapat bersikap sungguh-sungguh namun tetap mampu menikmati hidupnya. Tuhanku... Berilah ia kerendahan hati... Agar ia ingat akan kesederhanaan dan keagungan yang hakiki... Pada sumber kearifan, kelemahlembutan, dan kekuatan yang sempurna...

Dan, pada akhirnya bila semua itu terwujud, hamba, ayahnya, dengan berani berkata "hidupku tidaklah sia-sia".

Mungkin sekarang puisi semacam ini sudah jadi cliché, basi, dan ketinggalan zaman. Akan tetapi, bagi saya, ada makna universal yang masih terus berlaku hingga sekarang; bahwa hidup, adalah arena di mana kita menempa, mengasah, dan mempersiapkan diri, untuk kemudian menjejalkannya ke dalam realita yang keras dan kejam. Faktanya, kebanyakan orang yang namanya tercatat dalam sejarah, adalah juga orang-orang yang menghadapi keras dan kejamnya realita itu dengan kepala tegak. Merekalah yang mungkin, pada ukuran tertentu, dapat  memaknai hidup, dan memberi manfaat bagi orang lain.

Dan itu juga yang (mestinya) saya, dan kita semua, harus kejar. Berilah makna bagi hidup, dan orang-orang di sekitarmu.

*Easier said than done, eh?*