Dul, Lisensi, dan Kemandirian

Dul, Lisensi, dan Kemandirian

Kasus tabrakan maut yang melibatkan AQJ alias Dul menyita perhatian masyarakat beberapa pekan terakhir. Kasus ini jadi heboh setidaknya karena tiga hal: (1) korban belasan orang, enam di antaranya tewas, (2) si Dul anak pesohor bernama Ahmad Dhani, dan (3) umurnya baru 13 tahun. Saya tertarik menyoroti hal ketiga, karena berita kecelakaan memang biasa jadi headline berita, pun Ahmad Dhani dengan segala karya, kontroversi dan arogansinya sudah keseringan jadi santapan media. Usia Dul yang baru 13 tahun tapi sudah dilepas ke jalan membawa kendaraan bermotor, dilihat dari sudut manapun, sudah kadung salah….

Well, sesalah apa? Bukankah kasus ini cuma puncak gunung es dari fenomena sosial yang lebih besar di kalangan menengah, atas maupun pinggir? Bahwa anak di bawah umur tanpa lisensi mengemudi dilarang membawa kendaraan bermotor itu sudah sangat jelas aturannya, tetapi sesederhana itukah kenyataannya?

Kamis ini di tengah lapangan futsal sekolah tempat saya mengajar, dijejerkan tiga sepeda motor. Modif balap, tanpa plat dan spion. Motor ini disita dari anak kelas 7 dan 8, yang usianya kurang lebihlah sama dengan Dul. Sekolah saya memang termasuk tegas melarang siswa naik motor ke sekolah, tak hanya karena mereka belum punya SIM, tetapi sekaligus menghindari kecemburuan sosial di kalangan siswa kelas menengah pinggir ini. Hanya saja, namanya anak-anak, kadang ada saja yang tak mengindahkan aturan sekolah dan dengan damai sentosa melengos dengan kecepatan tinggi di jalan ke sekolah yang terhitung lengang.

Jadi semua salah siswa? Tidak juga sih. Sekali lagi, fenomena ABG dan motor/mobil ini adalah gunung es saja. Boleh mereka dilarang ke sekolah naik motor dan nurut, tapi di rumah, ke manapun selama tidak berseragam, mereka bebas. Toh orang tua pun tak melarang…

Ya, hubungan orang tua dan motor anak ini lebih rumit ketimbang hubungan Mahfud dan Jimly. Sekolah bisa saja saklek menegakkan aturan, tapi di rumah, idealnya orang tua yang harus menanamkan nilai. Masalahnya, ortu punya standar dan skala nilai yang berbeda untuk buah hati mereka masing-masing.

Pertama, bagi kalangan menengah pinggir, motor itu barang mahal (jika tak lagi layak disebut mewah). Membelikan motor untuk anak dipandang sebagai kemampuan ortu secara ekonomi untuk mencukupi kebutuhan anak. Di tengah masyarakat yang materialistis ditambah kemudahan fasilitas kredit, ada ‘kebanggaan’ tersendiri jika si anak kesayangan mampu dibelikan motor sedari dini. Nggak kalah lah sama tetangga sebelah…

Kedua, kalau masalahnya adalah legalitas, itu gampang saja. Tinggal bikin SIM tembak bisa, ‘kok. Seorang siswa pernah kami sidang dengan pertanyaan “kamu kan belum punya SIM, nak?” dengan enteng dan bangganya memamerkan SIM kepada kami, dan usianya secara ajaib bertambah empat tahun…

Ketiga, dan menurut saya ini agak mengerikan, adalah pandangan bahwa naik motor adalah life skill. Ia adalah wujud kemandirian si anak yang tak lagi perlu diantar ke mana-mana. Apalagi ini Kalimantan yang jarak antar tempat berkilo-kilometer jauhnya, termasuk antara rumah dan sekolah. Untuk itu, daripada si anak ngos-ngosan mengayuh sepeda, mending naik motor yang cepat dan mudah. Dan oleh beberapa sekolah ini difasilitasi dengan baik. Ada beberapa SMP (bahkan yang masuk kategori favorit) di kota ini, tak perlulah disebut nama SMP-nya, bahkan menyediakan lahan parkir untuk anak-anak menaruh motor bebek dan matic keren mereka. Ya, sekolah mendukung. SMA apalagi, meskipun kalau lihat aturan, yang punya SIM minimal berusia 17 tahun, anak kelas X dan XI yang rata-rata belum nyampe 17 juga aman saja ke sekolah…

Sepeda motor seakan sudah jadi kebutuhan pokok anak-anak zaman sekarang, seperti halnya hape dan cesan. Masalahnya adalah, resikonya kadang terlalu besar… Baru dua bulan saya di Jogja, seorang anak mengirim pesan via FB. “Bapak, si R***** meninggal dunia, kecelakaan pulang sekolah….” Ia baru tahun itu lulus SMP dan melanjutkan ke salah satu SMK di sekitar jalan Trikora. Setahun berikutnya, ada lagi anak angkatan di bawahnya, juga baru masuk SMK, juga kecelakaan dan meninggal…

Entahlah, buat saya ini meresahkan. Apa yang saya lihat mungkin mengaburkan opini pribadi, tetapi sungguh, perkara anak bawa motor ini sepertinya bukan masalah si anak semata; ada faktor mindset dan gengsi orang tua, lemahnya penegakan aturan, dan makin melarnya makna kemandirian…

Dan guru-guru di sekolah saya kok ya masih saja melarang siswanya naik motor… Buat apa?

Catatan: Tulisan yang lebih intelek dengan taburan istilah menara gading bisa disimak di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *