Boyhood (2014) – When You See How Time Flies

Boyhood (2014) – When You See How Time Flies

The world is too competitive. There are too many talented people who are willing to work hard; and a buttload of morons who are untalented, who are more than willing to surpass you. As a matter of fact, a lot of them are sitting in that classroom out there right now. Hm? You know what they’re doing? They’re doing their assignments.

– Mr. Turlington

Daftar film yang saya tonton sepanjang 2014 sudah selesai dirilis, namun masih ada satu film yang sempat saya setel sebelum pergantian tahun. Tadinya saya cuma ingin mengosongkan isi harddisk, dan memilih Boyhood karena ukuran filenya paling besar (10an giga), tanpa membaca ulasan apapun terkait karya Richard Linklater ini. Jadi tak ada ekspektasi apapun ketika memutarnya.

Tak disangka, film ini membuat saya terpesona, berkali-kali, sepanjang cerita. Tak berlebihan kalau film ini saya nobatkan sebagai film terbaik yang saya saksikan sepanjang 2014, bahkan masuk kategori, seperti kata bung Lambrtz, film bernilai 6/5 versi saya.

Ceritanya sebenarnya biasa saja, berfokus pada kehidupan Mason Evans Jr. sejak ia kelas 1 SD hingga lulus SMA dan masuk kuliah. Seiring berjalannya waktu, ada berbagai peristiwa yang menimpa Mason dan keluarganya, dari perceraian orang tuanya, pernikahan ibunya, konflik dengan ayah tiri, masalah-masalah khas anak sekolah dan remaja, serta minat-bakat-cita-cita dan keputusan yang diambilnya terkait masa depan. Semuanya diceritakan mengalir, sambil lalu saja. Rentang waktunya, 12 tahun. Ya, 12 tahun!

Selama 12 tahun itu pula Linklater, dengan ketekunan yang tak sanggup saya bayangkan, menggarap film ini. Setiap tahun para pemerannya berkumpul di Texas untuk pengambilan gambar, dari 2002 sampai akhir 2013. Hasilnya, kita disuguhi perkembangan fisik dan mental para pemainnya, khususnya pemeran kakak beradik Samantha (Lorelei Linklater) dan Mason (Ellar Coltrane), dari kecil hingga mereka dewasa. Pertumbuhan yang kadang tak terasa, kadang begitu cepatnya.

Para tokoh dewasa juga tak luput mengalami perubahan, yang paling kentara pada Patricia Arquette dan Ethan Hawke yang memerankan ibu dan ayah Mason. Seiring berjalannya waktu, mereka terlihat semakin menua, pun mengalami perubahan cara pandang dalam menilai dunia dan anak-anak mereka.

Dan seperti biasa, saya yang mudah terperangah ini demikian takjub dengan film ini. Betapa banyak hal yang seolah bisa kita kaitkan ke diri sendiri saat menyaksikannya. Dialog-dialog dalam film ini, walau sederhana, seakan menyisipkan pesan mendalam. Adegan di kamar gelap antara Mason dan guru kelas fotografinya langsung jadi favorit saya, terutama di bagian yang saya kutip di atas. Ada juga adegan ketika ibu Mason menyarankan seorang anak imigran Meksiko untuk sekolah. Keduanya mengingatkan saya pada tempelan di dinding ruang guru sekolah tempat saya bekerja, kata-kata William Arthur Ward yang salah satunya menyebut “the great teacher inspires”, guru yang hebat selalu menginspirasi.

Budaya pop dan perkembangan teknologi juga menghiasi progres film ini. Dari “Yellow” yang jadi hits pembuka, Macintosh tabung nan gendut, Nintendo Wii, Green Day, Bush dan perang Irak, Obama-McCain, iPhone, Lady Gaga, hingga yang paling epik, obrolan soal prediksi sekuel Star Wars. Film ini seolah sekaligus menghadirkan mozaik peristiwa-peristiwa yang mungkin tak penting, namun sarat kenangan suatu saat kelak.

You don’t want the bumpers, life doesn’t give you bumpers..

– Dad

11 thoughts on “Boyhood (2014) – When You See How Time Flies

  1. lambrtz

    Komentar teratas di Youtube kok…

    “The longest and most boring movie EVER! I started off being intrigued to see where this movie was going to go but after three hours in and only half way through I stopped caring. Mildly interesting to see the principle characters growing up but that novelty wears off and just leaves craving an actual story line. For me it’s a 5 out of 10.”

    :/

    1. Amed Post author

      Ah, komentator Youtube, apa sih yang nggak dinyinyirin 😛
      Lagipula, we cannot please everybody, kan? Mungkin dia memang cari yang drama dan konfliknya lebih nendang, jadi wajarlah kecewa.

  2. sora9n

    “Seiring berjalannya waktu, mereka terlihat semakin menua, pun mengalami perubahan cara pandang dalam menilai dunia dan anak-anak mereka. … Betapa banyak hal yang seolah bisa kita kaitkan ke diri sendiri saat menyaksikannya.”

     
    Sebagai orang yang perlahan-lahan mulai dikelilingi keponakan, yang semacam ini membuat saya berkaca-kaca… mulai bisa paham bahwa dunia berubah, sudut pandang berubah, dan sayanya juga berubah. :'(

    Eh, BTW Richard Linklater itu yang sutradara trilogi Before Sunrise/Sunset/Midnight. Dan sebaiknya saya berhenti komen, harus bersihin kamar, kurang ajar ini debu bikin mata perih.

    *brb ambil kemoceng*

    1. Amed Post author

      Saya malah ndak tahu Linklater itu siapa sebelum nonton ini, jadi beneran ndak punya referensi. Yang jelas ini film memang relatable sekali. Kalau yang punya ponakan aja kedebuan mata, apalagilah yang punya anak, terus terkenang sejak si gadis lahir sampai menjelang 9 tahun usianya… terus…
      :'(

    2. Amed Post author

      Oya, jadi itu trilogi yang dibuat 9 tahun sekali ya? Aduh, ternyata Linklater ini memang hobi bikin galau… 🙁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *