Gus Mus – Negeriku

Negeriku

mana ada negeri sesubur negeriku?
sawahnya tak hanya menumbuhkan padi, tebu, dan jagung
tapi juga pabrik, tempat rekreasi, dan gedung
perabot-perabot orang kaya di dunia

dan burung-burung indah piaraan mereka
berasal dari hutanku
ikan-ikan pilihan yang mereka santap
bermula dari lautku
emas dan perhiasan mereka digali dari tambangku
air bersih yang mereka minum
bersumber dari keringatku

mana ada negeri sekaya negeriku?
majikan-majikan bangsaku
memiliki buruh mancanegara
brankas-brankas bank ternama di mana-mana
menyimpan harta-hartaku
negeriku menumbuhkan konglomerat
dan mengikis habis kaum melarat
rata-rata pemimpin negeriku
dan handai tolannya
terkaya di dunia

mana ada negeri semakmur negeriku
penganggur-penganggur diberi perumahan
gaji dan pensiunan setiap bulan
rakyat-rakyat kecil menyumbang
negara tanpa imbalan
rampok-rampok diberi rekomendasi
dengan kop sakti instansi
maling-maling diberi konsesi

tikus dan kucing
dengan asik berkolusi

– K.H. A. Mustofa Bisri (1995)1


Pertama mendengar puisi ini di insert RRI, dibacakan sendiri oleh si pengarang, saya merinding. Entah mengapa… Tapi dasarnya saya ini orangnya memang mudah terkesima dan terpengaruh, naif… Mungkin karena getaran suara Gus Mus yang berkharisma. Atau gara-gara isi pesannya yang masih saja relatable setelah lebih dua dekade digubah. Yang jelas buat saya, puisi ini cocok sekali diputar kembali menjelang detik-detik kemerdekaan Indonesia yang ke-70. Pas.


  1. teks dikopas dari sini