My Android Gadgets

Android merupakan sistem operasi (OS) perangkat selular terpopuler saat ini. Jumlah pemakainya jauh melampaui OS bikinan Apple atau Microsoft, apalagi kalau dibandingkan dengan OS jadul Symbian seperti di Nokia E63 saya, yang sekarang sudah dihibahkan ke Emak. Saat ini hampir semua smartphone dan tablet yang saya gunakan berbasis Android.

Pada postingan kali ini, saya mencoba mendata semua perangkat Android yang pernah saya beli. Tercatat ada dua tablet dan tujuh (!) ponsel yang saya koleksi, baik untuk pemakaian pribadi maupun untuk istri dan anak-anak. Berikut daftarnya:

1. Samsung Galaxy Ace (Oktober 2012)
Ponsel ini saya beli seken dari tetangga kos yang kebetulan berbaik hati menawarkan dengan harga miring. Meski murah, speknya tidak murahan: Prosesor level SnapDragon, layar sudah pakai Gorilla Glass, dan sudah mendukung HSDPA. Saya banyak belajar mengutak-atik Android dengan hape ini, seru dan menyenangkan walau masih banyak bingungnya.
Hingga saat ini, si Ace masih hidup dan berjalan normal. Keterbatasan memori internal dan baterainya yang minim (1350 mAh) membuatnya tak bisa terlalu banyak dipasangi aplikasi zaman sekarang, sehingga fungsinya pun berubah sebagai sentra WiFi. Saya pasang kartu XL dengan paket super ngebut, lumayan buat dipakai browsing di sekolah yang kebetulan sinyal XL cukup kenceng.

2. Tablet Advan E1-B (Juni 2013)
Tablet oleh-oleh untuk si Mbak sebelum pulang permanen ke Banjarbaru, dibeli di Jogjatronik. Androidnya sudah versi Ice Cream Sandwich dan memorinya lumayan lega. Bermasalah pada layar sentuhnya yang ada garis vertikal meski tidak mengganggu. Kerusakan justru pada baterai, mungkin karena keseringan di-charge, menggelembung dan akhirnya mati total setelah dipakai hampir setahun.

3. Lenovo P780 (Februari 2014)
Dibeli menjelang tur ke Jogja dalam rangka wisuda, karena ditargetkan untuk keperluan dokumentasi jalan-jalan. Speknya lumayan walau dengan harga hampir duakali lipatnya si Ace. Kamera 8MP tidak terlalu istimewa, bahkan cenderung agak gelap, dengan RAM 1GB sehingga cukup lancar dipakai. Keunggulannya ada pada baterainya yang awet (4000 mAh) sehingga tidak terlalu sering diisi ulang. Terakhir sempat update OTA ke Kitkat, sebelum tragedi itu…

4. Tablet Lenovo A7-30 A3300 (Juli 2014)
Usai lebaran, Mbak minta ganti tablet baru mengingat si Advan udah tewas. Dapatlah tablet ini dengan harga bersahabat. Speknya keren, sudah Jelly Bean pula. Internetnya nggak mendukung 3G tapi masih bisa lewat WiFi. Sayangnya setelah hampir setahun dipakai, mendadak mati total tanpa pertanda apa-apa. Setelah saya baca-baca, rupanya banyak juga yang sudah jadi korbannya.

5. Lenovo A526 (Agustus 2014)
Beberapa pekan setelah beli tablet buat Mbak, musibah melanda. P780 jatuh di jalan dan terlindas (beberapa) mobil. Kondisi rusak parah, layar sentuh dan pelindung kameranya retak. Meski sampai sekarang masih hidup, hape tak bisa direparasi karena stok layar sentuhnya tak tersedia. Keputusan darurat pun diambil, kartu kreditpun kembali tergesek…

 

Broken Lenovo P780

Lenovo P780, masih hidup walaupun layar sentuhnya remuk. Foto diambil setahun setelah tragedi menggunakan Oppo R2001 Yoyo.

A526 memiliki spesifikasi seadanya, terutama kamera 5MPnya yang tanpa LED flash. Beberapa hari pakai, saya kasihkan istri dan sementara saya kembali pakai Ace. Lumayan awet ternyata, cuma sempat ganti LCD yang tak sengaja terinjak. Sekarang masih aktif dipakai khususnya untuk telepon, SMS, (menggantikan Nokia C3 yang pensiun) juga BBM.

6. Oppo R2001 Yoyo (November 2014)
Tiga bulan pakai ponsel yang ‘outdated’ menderita juga, sehingga akhirnya saya rasa harus beli perangkat baru. Ke toko tanpa target, akhirnya termakan promosi sales. Speknya biasa saja, tapi saya suka banget sama kameranya yang terang dan ada fitur ‘fill light‘ yang sangat membantu.
Masalah ada di memori internal yang kekecilan dan akhirnya diatasi dengan teknik yang agak ekstrem: repartisi. Setahun dipakai, di akhir tahun masalah mulai melanda. Hape sering bootloop dan harus di-flash ulang beberapa kali. Akhirnya, pada Desember 2015, si Yoyo ngebrick dan mati total.

7. Xiaomi Redmi Note 3 MTK (Desember 2015)
Sebagai gantinya, saya mulai cari-cari hape baru. Kebetulan di akhir tahun sudah ada beberapa perangkat kelas menengah dengan spek rasa premium, salah satunya Redmi Note 3 ini.
Saat ini mungkin ini hape dengan spek tercanggih yang saya punya: prosesor octacore (meski, ya, MediaTek doang), layar 5.5 inci full HD, kamera 13MP, dan baterai kapasitas gede (4000 mAh). Memori juga cukup lega, 2GB RAM dan 16GB internal, dengan desain bodi elegan berbahan metal.
Salah satu keunggulan produk Xiaomi ini ada di forum penggunanya, baik yang resmi berbahasa Inggris di MIUI, maupun yang berbahasa Indonesia di Facebook. Para pengguna aktif berbagi info, tips dan trik sehingga saya tidak merasa sendirian ketika menemui masalah.
Sekarang si ReNo3 sudah di-upgrade ke MIUI 7.3.3.0 lewat fastboot, dan tengah menunggu, entah dapat apdet ke 7.5 atau sekalian MIUI 8. Banyak pula custom ROM yang menggoda, namun sejauh ini saya yang lebih suka pakai yang ada, terjebak dalam zona nyaman…
Kekurangan terbesarnya adalah tidak adanya slot memori tambahan, sehingga kita harus rutin memindah foto-foto dan file lainnya ke laptop. Selain itu, LED flash-nya juga tidak terlalu bagus kala dipakai memotret, sehingga sangat jarang saya pakai.

 

Fastbooting Xiaomi Redmi Note 3

Proses Fastboot MIUI 7.2.5.0 di Xiaomi Redmi Note 3, foto diambil menggunakan Lenovo A7000+

 

8. Lenovo A7000+ (Februari 2016)
Sebenarnya untuk OS, saya lebih suka produk Lenovo yang kebanyakan sudah siap pakai. Menurut saya Vibe UI relatif lebih user-friendly ketimbang MIUI yang perlu banyak utak-atik dulu. Karena itu, untuk istri yang orangnya nggak suka ribet, saya pilihkan perangkat ini.
Speknya hampir mirip dengan ReNo3, sudah octacore juga (meski, ya, MediaTek juga, lebih rendah pula clockspeed-nya), 2/16GB juga memorinya plus ada slot memori tambahan, kamera sama 13/5MP bahkan hasil fotonya relatif lebih bening dan dual LED flash-nya tidak mengganggu.
Sejauh ini, untuk istri yang pemakaian gadgetnya nggak berat-berat amat: mainan socmed, foto-foto, dan paling banter main Pou, hape ini sudah sangat mencukupi.

9. Vivo Y21 (Maret 2016)
Alkisah si Mbak ngiri karena tabletnya yang mati tak kunjung diganti-ganti. Nggak tega juga, akhirnya saya belikan saja hape yang low-maintenance ini. Memori internal 16GB cukuplah buat install game-game kesukaannya. Spek lain tidak terlalu istimewa, tapi yang penting lebih ringkas lah buat dibawa-bawa ketimbang tablet.


Dari 9 gadget Android, empat sudah tewas, sementara satu difungsikan sebagai WiFi tethering. Empat gadget yang masih aktif sejauh ini berjalan lancar dan semoga tidak ada masalah, sehingga tidak ada alasan untuk saya berburu hape baru. Walau ya, kalau ngikutin hawa nafsu, itu Zenfone 3 bikin ngiler kali.

2 thoughts on “My Android Gadgets

  1. Farid

    SAMSUNG GALAXY GRAND
    SAMSUNG GALAXY CHAT
    SAMSUNG TAB 3
    SAMSUNG GALAXY INFINITE

    XIAOMI REDMI NOTE 2
    XIAOMI REDMI 3

    LENOVO A7000

    trus ada 2 Android China yang suara ringtones nya, kedengaran sampai dua kecamatan, lupa tipe dan merk nya. Nah itu semua kalau saya jabarkan panjang. Jadi dijelaskan asal muasal beli nya saja…

    belinya ya pakai duit, duitnya Insya Allah halal karena bukan hasil pindah memindah jabatan dan kedudukan orang, apalagi urusan suap menyuap karyawan, ya karena saya bukan orang pemerintahan juga bukan guru.

    Okelah, next time saya posting sendiri android2 saya, kalau ga lupa dan ga malas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *