Satir Yang Menghibur

Posted on: Mon, 28 Apr 2008 - 14:08 By: amed

Banjarbaru, 28 April 2008

Postingan yang sudah lama siap terbit, namun baru sempat dibawa sekarang; setelah kondisi kaki saya memungkinkan untuk ngejogrog di warnet lagi. (FYI, tanggal 11 April lalu saya kena kecelakaan lumayan parah, betis saya yang mulus ciuman sama knalpot, jadi "grilled leg" deh... 2 minggu saya jadi manusia tak berguna, dan baru sekarang bisa bergerak leluasa kembali walau masih terpincang-pincang...)

Sabtu, 5 April lalu, saya mengikuti tes TOEFL di LIA Banjarmasin. Tes itu sendiri buat saya tujuannya adalah sebagai pemantapan; apakah layak mengajar TOEFL yang katanya maha berat ituh... Hohoho... Tapi saya bukan mau ngomongin TOEFL-nya atau hasilnya yang "cuma" 593 *dihajar massa* , melainkan bagian yang justru paling menarik minat saya; satu passage di bagian terakhir reading comprehension test. Passage tersebut menceritakan tentang karya satir yang menghibur. Saking tertariknya dengan tulisan ini, saya catat poin-poinnya di ponsel, lalu saya coba cari artikel selengkapnya via googling. Saya akhirnya berhasil menemukan teks selengkapnya.

Sebenarnya teks tersebut ingin saya taruh di sini, tapi saya memilih untuk coba menerjemahkannya saja ke Bahasa Indonesia. Berikut terjemahan versi saya (maaf kalau hasil terjemahannya terasa serampangan; saya freelance translator tanpa lisensi lho, hohoho):

Barangkali kualitas yang paling mengagumkan dari karya satir adalah kesegarannya; orisinalitas perspektifnya. Satir jarang memperkenalkan ide yang orisinil. Alih-alih, ia menghadirkan hal yang biasa kita temui dalam bentuk yang berbeda. Para pengarang satir tidak menawarkan filosofi baru kepada dunia. Yang mereka lakukan hanyalah melihat hal biasa dari perspektif yang mengkondisikan keadaan itu sedemikian rupa hingga terlihat konyol, berbahaya ataupun penuh kepura-puraan. Satir menggoyang-goyang kita agar keluar dari rasa berpuas diri ke kesadaran yang mengejutkan; kalau banyak nilai-nilai yang selama ini kita terima tanpa ragu ternyata keliru. Don Quixote membuat kekesatriaan terlihat menggelikan, Brave New World menertawakan pretensi sains, A Modest Proposal mendramatisir kelaparan dengan mendukung kanibalisme. Ide-ide ini nyatanya tidaklah original. Kekesatriaan telah lama dipermasalahkan sebelum Cervantes, para humanis telah lama keberatan dengan klaim sains murni sebelum Aldous Huxley dan orang-orang sudah sadar akan bahaya kelaparan sebelum Swift. Bukan keaslian idenya yang membuat karya-karya satir ini populer. Adalah cara pengekspresian metode satir yang membuat mereka menarik dan menghibur. Satir dibaca karena mereka merupakan karya seni yang amat memuaskan secara estetika, bukan karena mereka secara moral berfaedah atau secara etika mengandung pelajaran. Mereka membangkitkan semangat dan menyegarkan karena mereka begitu cepatnya menghapuskan ilusi dan opini usang. Dengan ketidaksopanan yang spontan, satir mendekonstruksi perspektif kita, mengacak-acak obyek yang kita kenal menjadi susunan yang tak teratur dan berbicara dalam idiom personal ketimbang dalam omong kosong yang abstrak.

Satir ada karena kita membutuhkannya. Ia hidup karena pembaca menghargai stimulus yang menyegarkan, pengingat kurang ajar kalau mereka hidup dalam pemikiran basi, moralitas murahan, dan filosofi konyol. Satir melecut masyarakat untuk menyadari kebenaran walau jarang mengatas namakan kebenaran. Satir cenderung mengingatkan masyarakat kalau banyak dari yang kita lihat, dengar, dan baca di media populer sifatnya sok suci, sentimentil, dan hanya separo benarnya. Hidup hanya sedikit sekali miripnya dengan gambaran populer yang ada. Prajurit amat jarang memegang idealisme seperti di film-film yang menceritakan kepahlawanan mereka, sementara masyarakat biasa pun kenyataannya jarang mencurahkan hidup mereka untuk pelayanan kemanusiaan tanpa mementingkan diri sendiri. Masyarakat yang cerdas mengetahui hal-hal ini tapi cenderung lupa hanya karena tidak ada yang menyuarakannya.

Well... Artikel yang mencerahkan... Setidaknya buat saya. Dan dari artikel ini saya jadi mengetahui mengapa saya HARUS menyukai karya satir: karena dengan membaca satir, saya sudah menyediakan pipi sendiri untuk ditampar. Ditampar oleh realita yang pahit, sebuah pengingat di kala terlena oleh nikmatnya comfort zone.

Dan dari penjelasan Bang Fertob dalam post legendarisnya, saya juga jadi paham mengapa ada beberapa pihak yang justru tidak memahami menyukai karya satir.

Empat poin yang diberikan Bang Fertob adalah:
# Satir kurang mengena jika digunakan dalam masyarakat yang masih “kurang cerdas”.
# Satir kurang mengena pada orang/masyarakat yang kurang memiliki “insight”.
# Satir kurang mengena pada orang/masyarakat yang “tidak mampu menertawakan sesuatu”
# Satir kurang mengena pada orang/masyarakat yang “tidak open-minded”

Jadi, asal anda bukan orang goblok, ignorant, berselera humor rendah dan picik, saya pastikan kalau anda juga HARUS bisa memahami dan menyukai karya satir. Tidak suka juga? Well, berarti anda memang goblok, ignorant, berselera humor rendah dan picik tapi anda tidak mau mengakuinya hohoho.... *busyet dah...*.

Terakhir, saya jadi ingat juga komentar legendaris saya di posting legendaris Bang Fertob di atas:

Satir itu rentan untuk disalah pahami, apalagi dijadikan bahan buat maki-maki orang. Sebaiknya jangan diteruskan kebiasaan menulis satir. Tulislah seadanya saja, hentikan kreativitas yang tidak berguna itu!