Movies, Music

Lucy In The Sky With Diamonds

Banjarmasin, 26 Januari 2007

Picture yourself in a boat on a river,
With tangerine trees and marmalade skies
Somebody calls you, you answer quite slowly,
A girl with kaleidoscope eyes.
Cellophane flowers of yellow and green,
Towering over your head.
Look for the girl with the sun in her eyes,
And she’s gone.

Lucy in the sky with diamonds.

Follow her down to a bridge by a fountain
Where rocking horse people eat marshmallow pies,
Everyone smiles as you drift past the flowers,
That grow so incredibly high.
Newspaper taxis appear on the shore,
Waiting to take you away.
Climb in the back with your head in the clouds,
And you’re gone.

Lucy in the sky with diamonds,

Picture yourself on a train in a station,
With Plasticine porters with looking glass ties,
Suddenly someone is there at the turnstile,
The girl with the kaleidoscope eyes.

The BeatlesSgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band (1967)


Minggu malam lalu salah satu film favorit saya tayang di Trans7, judulnya I am Sam. Film ini bercerita tentang Sam Dawson, seorang single father penyandang developmental disability dengan kecerdasan setara anak usia 7 tahun, dalam perjuangannya demi memperoleh hak asuh putrinya, Lucy.

I am Sam adalah sebuah film yang amat sederhana, tanpa intrik, tanpa bom, bahkan bisa dibilang tanpa seorang tokoh antagonis pun. Akan tetapi, di balik kesederhanaannya itulah saya menemukan sejumlah keistimewaan.

Film ini bisa jadi film pertama, dan masih satu-satunya yang membuat saya begitu terharu hingga menitikkan air mata. Agak aneh juga karena sebenarnya scene nangis bombay di film ini tidaklah sebanyak film India atau Setantron™ Indonesia. Tapi setiap kali Lucy mengatakan “other daddy never brings his child to the park“, atau saat Sam mengajari Lucy membaca “I want you to read the word because it makes me happy“, tiga kali saya menonton film ini, tiga kali juga saya tidak kuasa untuk berlinang air mata.

Sean Penn, sebagai Sam Dawson, berperan sangat cemerlang dan menampilkan setiap emosi dengan luar biasa, bisa dilihat dari tatapan matanya, cara dia berjalan hingga gaya bicaranya, penjiwaan yang mendekati sempurna. Kabarnya ia melakukan riset ke L.A. Goal, sebuah panti rehabilitasi bagi penderita keterbelakangan mental, di mana dua dari empat aktor yang memerankan kawan-kawan Sam juga berasal dari panti ini.

Michelle Pfeiffer, sebagai Rita Harrison, di sisi lain juga bermain amat bagus, sebagai seorang pengacara cerdas, cantik, dan selalu memenangkan perkaranya, namun sekaligus merasakan kekosongan hidup, di tengah harta yang melimpah dan kesuksesan dari her so called city life.

Akan tetapi daya tarik utama film ini adalah Dakota Fanning!!! Di usianya yang baru 7 tahun ia memperlihatkan kualitas akting yang mumpuni. Ia tidak kelihatan canggung menghadapi seorang Sean Penn, dan menggambarkan karakter Lucy dengan sangat kuat.

I am Sam bagi saya sebuah masterpiece, sebuah cerita yang menyentuh, dan terasa sangat dekat dengan kehidupan kita. Saya tidak tahu apakah ada pengaruh dari sentuhan seorang perempuan (Director/co-writer Jessie Nelson) dalam menghasilkan film yang mengharuskan pemirsanya menggunakan hati kecil mereka dalam menyaksikan film ini. (Ini pendapat pribadi, tapi entah kenapa untuk film Indonesia pun, saya juga paling sreg baru dengan karya-karya Nia Dinata)

Sinematografi film ini sendiri sungguh “tidak biasa” bahkan bisa dikatakan “luar biasa”. Kameranya goyang-goyang, muter-muter ndak jelas, zooming-nya motong, dan editingnya terkesan ‘seenaknya’. Tapi justru kena dan masuk ke karakter dan mood Sam. Teknik kamera gendong, tanpa crane atau alat penopang mekanis apapun di film ini justru jadi daya tarik tersendiri.

Lagu-lagu The Beatles mengiringi di setiap suasana, mengarahkan mood cerita. Meskipun yang diputar di film ini hanya Cover Version yang dibawakan musisi-musisi lain, berhubung budget film ini tidak mencukupi untuk membeli lisensi lagu yang kabarnya mencapai 300.000 dolar per lagu itu. Mungkin tidaklah cukup untuk menggantikan nuansa Beatles yang asli, tapi cukup memberi warna tersendiri dalam film ini. Yang jelas kita bisa merasakan betapa dahsyatnya makna dari lirik-lirik lagu The Beatles di film ini.

Pesan yang dibawa film ini cukup jelas, dan banyak. Kita, sebagai penonton, bisa menjadi siapa saja di film ini,
bisa jadi seorang pengacara yang sukses dan kaya raya tapi gagal menjadi seorang ibu bagi anaknya,
bisa jadi seorang yang pernah punya pengalaman buruk dengan ayahnya sendiri, namun tetap berusaha sebisanya membantu seorang ayah yang sedang kesusahan,
bisa jadi seorang teman yang siap membela dengan cara apapun jua,
bisa jadi seorang anak yang membuat kesalahan, karena pernah merasa malu dengan keadaan ayahnya, menyesal, dan akhirnya menyadari arti kasih sayang,
bisa jadi seorang di luar sana, yang dengan piciknya merendahkan dan mempertanyakan kemampuan orang tua lain,
dan tentunya bisa jadi Sam.

* Love is all you need *

3 thoughts on “Lucy In The Sky With Diamonds

  1. Dicari gih di rental. Di sini saya ndak nemu originalnya, kalo yang DVD bajakan sih ada, tapi paling gambarnya buruk.

    Sean Penn di sini juga masih kelihatan ‘brutal’ tapi jauuh lebih mantap penjiwaannya ketimbang di U-Turn.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *