Banjarbaru dan Lampu Merah (satu-satu)nya

Banjarmasin, 8 Februari 2007

Setidaknya setiap dua kali seminggu saya ke Banjarbaru, sebuah kota yang sebentar lagi akan dijadikan pusat pemerintahan Provinsi Kalimantan Selatan. Kota ini tidaklah besar, walaupun luasnya beberapa kali lipat ukuran kota Banjarmasin, setelah ‘menganeksasi’ beberapa kecamatan di sekitarnya. Paling tidak, kota ini tidaklah sepadat Banjarmasin, dan arus lalu lintasnya juga tidak seramai Banjarmasin, yang saya anggap sebagai kota dengan traffic terburuk se-Kalimantan.

Lay-out kota ini terbilang sederhana, berpusat di sepanjang Jalan A. Yani, jalan protokol terpanjang di KalSel. Jalan-jalan pendukung dibikin mengikuti secara linear di sisi kiri dan kanan. Kalau dilihat dari atas jadi seperti lintasan Tamiya deh… 😀

Yang unik dari kota ini, setahu saya hanya ada SATU (CMIIW) pertigaan yang memiliki Lampu Lalu Lintas. Satu-satunya lampu merah ini pun tidak terletak di pusat keramaian, melainkan di pinggiran kota, dekat batas kota lama (sebelum perluasan).

Yang membingungkan saya, lampu merah ini menerapkan aturan yang cukup aneh: lurus juga harus berhenti! Padahal sependek yang saya tahu, di sisi lurus pertigaan, mestinya kita dapat terus jalan karena tidak ada jalur pengendara lain yang dipotong, seperti halnya belok kiri di pertigaan dan perempatan juga kita bisa jalan langsung. Biasanya, yang saya lihat di Banjarmasin, lampu lalu lintas di sisi lurus jalan tersebut selalu kedip-kedip kuning, terkadang dilengkapi rambu bertuliskan “HATI-HATI, LURUS JALAN TERUS”. ‘Kebetulan’-nya lagi, di samping lampu merah ajaib ini dibangun juga Pos Polisi, sehingga jika ada yang ‘melanggar’ peraturan bisa langsung ditindak. What a coincidence! 😀

Saya tidak tahu bagaimana sih peraturan sebenarnya mengenai hal ini. Lalu apakah ini hanya kebijakan otonomi Polres setempat (walau tidak jelas fungsinya untuk apa), ataukah ini peraturan yang di-ada-ada-kan sekadar agar bapak-bapak berseragam itu bisa punya penghasilan tambahan?

Ah! Ndak boleh buruk sangka ah… Tapi melihat kegeraman Guh yang sampai ngadu sama bu Ani, atau pengalaman Luthfi dan Om Passya saat ditilang, atau semangat Antobilang yang sampai bikin banner (saya ikut pasang juga yaaa), saya mau tidak mau jadi berasumsi yang bukan-bukan juga.

Semoga lampu merah KM 33 Banjarbaru tidak dibangun untuk sekadar jadi ajang pungli, walaupun sampai sekarang saya masih bertanya-tanya apa gunanya buang waktu kita berhenti sekian menit di saat kita sebenarnya berhak untuk jalan terus.

  1. pertamax…
    pasang aja mas bannernya, gratis tanpa pungutan..hehehe…
    gunanya berhenti..ya menikmati nongkrong di pertigaan yang ada lampu merahnya, yang (hanya) satu-satunya..hehehe…

  2. @ antobilang
    Thanks bannernya. Iya seandainya tempat yang ditongkrongi pemandangannya sedap sih gpp!

    @ helgeduelbek
    Lebih beruntung lagi kalau ndak ada sama sekali, gitu ya pak?

    @ manusiasuper
    Ada Pak Pol ndak saat itu? Hati-hati loh, kamu kan punya pengalaman buruk dengan polisi Banjarbaru!

    @ anung
    Hmm… faktor kualitas jalan sepertinya belum kamu hitung deh, hehe…

    @ fourtynine
    Hehe, itulah, ide menulis blog kan bisa muncul dari mana aja…

    @ Biho
    Iya, aneh… 🙂

    @ passya
    Yah, jangan mempermalukan kami seperti itu dong….

    @ anung
    Mau tau yang ndak ada di Kalsel? ALAT PENGUKUR INDEKS POLUSI UDARA (ISPU)! Padahal kena kabut asap rutin tiap tahun!

    @ fourtynine
    Tergantung mood…

  3. itu kali aja pas pembangunan lampu mere nya uda di atur taktik nya semacam itu, sehingga pak polisi bisa cari uang sampingan….*halah, ga penting amat de… 😛 *

  4. waduh, jd gak usah ngrokok dung,,wekekek..
    gak usah diukur dah tau ko klo bernapas disitu bisa bikin KO..
    sebagai gambaran aja,
    jalan2 diTokyo ama jalan2 diJakarta
    klo capek kan ngelap kringet pake tisu,,,
    diTokyo tisunya basah tak berwarna
    diJakarta tisunya basah berwarna hitam ato coklat,,
    kotornya udara kita

  5. @ raffael
    Hehe, saya pikir begitu juga, tapi paling enggak kan supaya ada ANGGARAN PERAWATAN LAMPU MERAH

    @ anung
    Jadi ingat iklan salah satu produk pembersih wajah pria….

    @ manusiasuper
    Menurut pungli.wordpress.com, Kalau disuruh ke Bank, artinya kamu yg salah, kalau disuruh sidang di pengadilan baru artinya kita masih boleh berargumen, kalo “denda di tempat”, well itu….

    @ Farid
    Huss, kasian dia kagak ngarti-ngarti padahal ribuan blogger ngerti aja cara ngeblog di WP 😀

    @ manusiasuper
    Blogger Blogspot juga gak boleh sombong!!

    @ Yulaian
    Hehe, tau aja, orang Bjb juga neh? Apalagi di Panglima Batur tuh, mana ada anak gaul yang mau pake helm?? Gimana mau good governance kalo gak konsisten gitu?

  6. Iya aku yang 4 tahun merantau di Banjarbaru baru sadar kalau bangjo banjarbaru cuma satu satunya. Tapi kalo saudaranya di Martapura hanya ada dua buting. Memang anehhhh di sini. Beda ama kampungku di Djogja. Bangjonya banyak bgt.

  7. mas amed yang makin imud saya kebetulan tinggal di deket tu lampu marah the only one ntuch, dan lampu tsb sangat berguna sebagai landmark kampung aye, misalnya kalau ane minta jemput ame konco tinggal bilang “kuhadangi di parak lampu habang” dan niscaya konco ane itu tak mungkin nyasar wong cuma satu-satunya, yeah bunuh yahudi!

  8. Mas, di Yogya juga ada lampu merah yang lurus harus berhenti. Tepatnya di pertigaan Jln. Colombo-Jln Gejayan, dulu kala sih aturannya lurus jalan terus tetapi sejak beberapa tahun yang lalu aturannya berubah menjadi lurus juga berhenti.
    Di kota kelahiran saya, Banjar juga tetapi Banjarnegara (sebuah kabupaten di Jawa Tengah) juga aturan tentang lampu merahnya rada aneh jika dibanding dengan kota2 lain. Di Banjarnegara untuk yang belok kiri juga harus mengikuti lampu merah, padahal setahu saya kalau kiri biasanya jalan terus.

  9. @ Fourtynine
    Nanti saya bikin posting khusus tentang Yahudi deh!

    @ DeKing
    Hmm… Lebih parah lagi, tapi “kebetulan” di dekat situ ada pos polisi juga ndak Pak?

  10. hi penulis karangan ini,

    komentar anda lampu merah pal 33 loktabat cukup bagus. selama ini tampaknya ada kesalahan tehnis untuk otomatisasi lampu merah tersebut.

    saya sendiri tiap hari lewat lampu merah tersebut tapi tidak begitu menghiraukan kondisi ini. yah sudah terbiasa mungkin.

    sebetulnya situasi lalulintas bjb agak aneh dan kacau. Misalnya pada tiap persimpangan jalan utama selalu ditutup dengan median jalan. lagipula jalab utama di bjb cuma 2 buah, yaitu jl a yani dan jalan panglima batur.

    tolong kasih saran lagi buat walikota dari kota idaman ini

    sekian

  11. wkwkwkw..
    pertigaan loktabat yang aneh

    traffic di bjm paling buruk se-indonesia. gw jamin.
    pengendaranya juga pengendara yang paling tidak sopan di dunia.
    its true
    I garanteeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee

  12. Sharusnya orang2 banjar harus study banding about everyting ke jogja.
    terutama masalah SOPAN SANTUN DI JALANAN
    I hate to say that.but mo apa lg,itu kenyataannya

    MO di bawa kemana Banjar klo gitu2 aja, g ada kemajuan soal sopan santun.
    kemajuannya cuma bisa ngikutin tren sinetron.
    Im sad , gw lahir dan besar di bjb, tp ………..what the fuck.

  13. Jalanya kecil mas ya wajar kalo harus “lurus STOP dulu”

    kalo tiga jalur mah wajar “lurus jalan trus” la ini cuma 2 jalur sempit lagi

  14. Wah, di sini juga banyak komen kelewat…

    @ Sulaiman Bakri
    Yup, saya harap dengan saya posting ini secara tidak langsung menjadi otokritik buat pemerintah, polisi dan kita sendiri sebagai sesama warga Banjarbaru, agar kota ini bisa benar-benar jadi IDAMAN kita semua.

    @ Bymo_vergil
    Hahaha, pengalaman yang sama rupanya… Yah mo gimana lagi, wong jalan persis di depan kantor walikota aja masih kerap dilewati anak-anak gawul tanpa helm kok… piye iki?

    @ Luthfi
    Iya nih, gara-gara saya ngedit tag-nya, jadi terkirim lagi trekbek yang belum sempat mampir…

    @ Az-Lee
    Ah, tidak terlalu sempit kok, malahan baru saja diperlebar jalannya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *