Culture, Politics

Time Is Money

Banjarbaru, 12 Mei 2008

Time Is Money
Waktu Adalah Uang

Proverb kapitalis lawas yang menyarankan kita agar menghargai waktu, mengisinya dengan hal-hal berguna misalnya ngeblog, dan tidak menyia-nyiakannya dengan kegiatan tanpa manfaat seperti ngeblog (loh?).

Akan tetapi sepertinya sekarang pepatah itu berhadapan dengan situasi paradoks, utamanya sejak heboh-heboh mau kenaikan BBM. Saat ini terjadi antrian panjang di berbagai SPBU, sehingga untuk mengisi bensin saya harus rela menunggu sekitar satu jam. Sementara itu, pedagang BBM eceran yang entah dari mana mendapatkan bensin :mrgreen: kembali mulai jadi spekulan dadakan dengan menaikkan harga hampir dua kali lipat beberapa ribu rupiah.

Dan saya terjebak dalam dilema yang sepele cukup membingungkan.
– Apakah saya harus ikut antri di SPBU, yang berarti buang waktu satu jam, beberapa kali seminggu?
– Atau beli eceran saja, yang artinya saya buang uang sekian ribu rupiah untuk para spekulan itu?

Sementara situasi yang perlu jadi pertimbangan saya adalah:
– Saya seorang CPNS yang harus pamer menunjukkan integritas yang baik dengan datang dan pulang tepat waktu.
– Saya juga harus tiba on-time di lembaga kursus di mana saya sedang mengumpulkan kredit untuk sertifikasi guru :mrgreen:
– Mobilitas saya juga cukup tinggi karena:
==> Jarak rumah ke sekolah sekitar 13 km, bolak-balik 26 km.
==> Jarak rumah ke kursus sekitar 5 km, bolak-balik 10 km.
==> Tiap 1-2 minggu saya juga kembali ke peradaban ke Banjarmasin yang jaraknya sekitar 35 km, bolak-balik 70 km.
==> Belum terhitung mengantar ibunya Nadira jalan-jalan ke taman, toko buku, arena bermain, atau shopping…
– Motor saya sendiri adalah Sigma butut 2 tak keluaran ’98 yang walau tidak sehebat motor Farid apalagi Land Cruiser-nya Gubernur dalam menyedot bensin, tetap terhitung agak boros. Belum lagi alokasi untuk oli samping dan oli mesin.

Tangki bensin motor saya sendiri bisa menampung hingga 20-22 ribu jika diisi di SPBU, dengan tarif Rp. 4500/liter. Bayangkan saja berapa yang harus dikeluarkan untuk para spekulan pengecer tersebut jika mereka mereka mematok harga dua kali lipat beberapa ribu rupiah lebih mahal…

Saya hanya bertanya-tanya, dengan semakin sering dan berulang-ulangnya kejadian seperti ini saya alami, apakah para pemegang kebijakan itu tidak berpikir untuk meninjau ulang strategi humas yang mereka buat agar aksi “panic buying” dan penimbunan+spekulasi seperti ini tidak terjadi lagi di kemudian hari?

Mari kita tanyakan sama-sama ke mereka aja deh…

Terkutuklah mereka yang memaksa rakyatnya tua di jalan SPBU

*Kutipan dimodif semena-mena dari Supernova :mrgreen: *

13 thoughts on “Time Is Money

  1. pemerintah membawa2 istilah “80 % BBM itu dinikmati oleh orang kaya”, tapi apa nyatanya?
    untuk meringankan beban orang kaya itu.
    saya masih ingat janji pemerintah waktu menaikkan bensin jadi 4500, akan menurunkan jika keadaan sudah baik, tapi nyatanya?
    malah BBM kelas tinggi yg diturunkan sejak kurun kenaikan 4500 itu sampe sekarang.
    pelaksanaan BLT masihkah kita percaya pelaksanaanya?
    semua hanya akan selalu menjadi alasan dan selalu ditanyakan 😀

  2. mereka who? 😕

    orang-orang di pemerintahan itu ya?! 😆


    *ludahi UUITE*

    @ aRuL

    Saya juga masih ingat janji-janji manis saat itu, Rul. Tapi melihat yang diturunkan justru harga BBM kelas tinggi, saya muak sampai hari ini. Belum lagi perusahaan-perusahaan besar – dewek atau pun asing punya – yang justru bisa nebeng BBM dengan harga yang sama utk konsumsi rakyat banyak.

    BLT? Apa itu? 😯

    Beban Langsung Tunai ditimpakan pada rakyat, maksudnya? 😆

    Ah…. paling blog ini dibredel gara2 komen saya 🙄

  3. setujuuuu …
    atas kebingungan dan dilema kenaikan BBM.
    kok minta diturunkan lha wong harganya naik terus.
    kok malah naik lha wong kita belum kaya
    piye jal..

  4. motormu ganti yg 4 tak dong, med… sigma tuh boros bensin plus perlu oli samping dan berasap pula… gunakanlah fasilitas kredit *malah kayak sales motor kreditan saya jadinya* huehehe

  5. sepeda?
    kalau faktor keamanan di Jakarta sudah baik sih gpp.

    pake sepeda demi penghematan,
    kaki pegel2 di jalan,
    akhirnya ditabrak sama orang,
    masuk rumah sakit,
    gak dapet tunjangan dari kantor.

    walah. gak jadi deh.
    lha wong orang jakarta pembalap semua

  6. tapi kalo lagi ga punya uang time ga bisa digadai… ah… jadi masih belum benar…

    pake sepeda pake sepeda…

    tuntut jalur sepedaaaaaaaaa

  7. @ aRuL
    Lah, BBM kelas tinggi itu diturunkan kan karena “tuntutan ekonomi” juga.. kalo harganya kemahalan orang kaya pada gak mau beli, hohoho…

    @ Alex®
    *berpikir untuk memoderasi komen dari Alex*

    *menggeleng*

    *mengangguk setuju*

    *bergidik*

    @ Itikkecil
    Naik sepeda sepertinya lebih realistis…
    Hari minggu lalu sepeda di gudang sudah dikeluarkan dan diservis abis…

    @ Nindityo
    Dan yang sudah kaya juga sepertinya nggak mau ngaku kaya.. ngaku miskiiiiiiin melulu….

    @ Teteh Mansup
    Akal sehat? Apa itu akal sehat?
    Akal bulus ngkaleee…

    @ Stey
    Ah, biarpun BBM naik, kau tetap Indonesiaku…

    @ Warmorning
    Iya sih, pengennya gitu, tapi sayang SK saya juga sudah tergadai mau diproyeksikan ke kebutuhan lain…

    BTW, mas ini kerja di BKD apa di FIF???

    @ cK
    Boleh juga, bisa dimulai dari dirimu biar langsing hayo?

    @ Andra
    Di sini balapannya lebih seram lagi, sama truk batubara yang ngejar setoran, hayooo…

    @ Natazya
    Saya jadi teringat Lintang di Laskar Pelangi, yang tiap hari naik sepeda 80 km bolak balik demi bisa sekolah…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *