Life

Sebuah Dialog Pada Suatu Malam

“Saya ini jualan bakso sudah lama, Dik, sejak 1986.”
“Wah, sudah cukup lama juga ya, Pak?”
“Yah, dulu saya itu pernah jaya, Dik… Se-Banjarbaru ndak ada yang ndak tahu warung Bakso saya… Kalo pembantu ada lah sampe lima. Sayangnya saya itu kemakan rayuan teman, diajak usaha lain. Dagangan saya jadi ludes, habis. Saya bangkrut!”
“Usaha apa, Pak?”
“Ikut nambang, di Cempaka. Katanya sih kalo dapat bisa kaya raya. Nyatanya apa? Dulu waktu jualan bakso bisalah saya, walau ndak besar-besar amat, tapi tiap hari ada dapat duit. Di tambang seminggu sekali juga belum tentu dapat… Semua serba untung-untungan”
“Nambang dari kapan Pak?”
“Dari tahun 2000. Akhirnya saya kapok, dan coba lagi jualan bakso dari awal. Sudah setahun ini saya keliling begini…”
“………….”

Di keheningan malam, di bawah hujan rintik-rintik, seorang bapak (yang kalau saya taksir seumuran dengan bapak saya yang bulan depan pensiun), mendorong gerobak baksonya, mengais rejeki di salah satu pulau terkaya di dunia ini. Masa lalu, ambisi semu, dan kegagalan hidup yang beliau alami menambah satu hikmah dalam benak saya; saya tak akan pernah mencoba usaha dari mengais perut bumi, mencari sesuatu yang tak pasti, tak peduli berapapun nilainya (kalau ada)…

Note: Cempaka, yang disebutkan beliau di atas, bukanlah nama bunga, melainkan sebuah tambang berlian yang dari rumah saya jaraknya tak lebih dari 15 kilometer. Di sana pernah ditemukan berbagai intan kualitas dunia, seperti intan Tri Sakti (166 karat) yang keberadaannya sampai sekarang tak pernah diketahui lagi…