Music

7 Albums I’d Play In My Café

Di Banjarbaru ada sebuah warung makan café tempat anak muda gawul kota ini kerap berkumpul. Lokasinya yang strategis, dekat dengan pusat keramaian satu-satunya membuat café ini nampak selalu dipenuhi pengunjung untuk hang out dan eksis. Sesekali saya pernah ditraktir makan di sana, dan saya perhatikan, memang lokasi yang pas inilah keunggulan utamanya. Dari sisi makanan dan minuman tak ada yang istimewa. Pun, pelayanan dan keramahan pengelolanya tidak luar biasa meskipun tentu tak seburuk pelayanan RS Omni.

Ada satu hal yang unik di sana, yaitu musik latar mereka. Entah kenapa setiap saya ke situ, yang diputar selalu lagu-lagu lama dari album Creed. Yah, lagu-lagu dari zaman saya kuliah dulu; My Sacrifice, One Last Breath, dan sebangsanya. Sesekali diputar juga lagu-lagu Linkin Park dan Audioslave. Saya tak tahu apakah hanya gara-gara saya yang jadul makan di situ mereka lalu dengan sengaja memutarkan lagu-lagu di atas, atau memang lagu-lagu itu sudah jadi “ciri khas” café ini dan pengelolanya yang seolah “terjebak di masa lalu”?
Ah, musik kan selera pribadi? Jadi adalah hak pengelola untuk memutar lagu apapun yang mereka suka, tak peduli kalau para pengunjung yang gawul dan kinyis-kinyis itu lebih mengakrabi ST12 atau Hijau Daun…

Iseng-iseng saya jadi mikir, seandainya saya punya café sendiri, lagu-lagu apa saja yang akan diputar di sana? Terinspirasi dari satu artikel di Kompas, saya memilih tujuh album yang saya khayalkan akan dicekokkan ke kuping pengunjung. Ketujuh album tersebut tentu sudah saya pilih melalui seleksi ketat dengan tingkat subyektivitas yang maha tinggi 😈 . Berikut daftarnya:

1. The Corrs – Talk on Corners (1997)
The Corrs adalah salah satu grup yang paling berhasil menjejalkan musik tradisional Irlandia ke pasar mainstream, di tengah persaingan ketat para diva dan boyband kala itu. Album ini menjadi masterpiece mereka dengan beberapa hits yang catchy sekaligus classy.
Dan, ah, seperti si pengelola café di atas, saya juga kerap merasa terjebak dalam masa lalu saat mendengarkan kembali album ini…

2. City of Angels: Music from the Motion Picture (1998)
Dua judul saja sebenarnya sudah cukup mewakili: Iris dan Uninvited. Dua hits besar dengan tingkat airplay yang sangat tinggi, bahkan hingga sekarang. Tak hanya itu, album ini benar-benar sarat bintang: Eric Clapton, Jimi Hendrix, dan Peter Gabriel, sekadar menyebut beberapa nama, tentu bukan musisi kemarin sore. Album ini jadi album soundtrack favorit saya, bersaing dengan lagu-lagu remake The Beatles di OST I am Sam.

3. Connie Talbot – Over The Rainbow (2007)
Album sederhana, dengan lagu-lagu top forty yang mungkin sudah didaur ulang oleh berbagai penyanyi. Yang membedakan di sini, penyanyinya adalah seorang anak gadis berusia enam tahun… Silakan cek dulu namanya di Youtube dan simak penampilannya di depan Simon Cowell. Suaranya bening dan sepertinya cocok untuk saya gunakan di kelas Listening.

4. Depapepe – Let’s Go!!! (2005)
Mohon maaf kepada pecinta musik Jepang, tapi jujur saja, saya nggak tahan mendengar suara vokalis mereka, baik cowok lebih-lebih cewek. Dari lagu-lagu Jepang yang pernah saya dengar, suara mereka kebanyakan pitchy, cempreng, dan seolah tak bertalenta dalam menyanyi. Akan tetapi, mendengarkan lagu-lagu dari grup Jepang satu ini, membawa nuansa lain ke telinga saya. Harus saya akui, musik yang mereka bawakan dahsyat! Harmonis dan sekaligus bersemangat. Yup, Depapepe adalah satu dari sedikit grup Jepang yang saya rekomendasikan.

Dan sudahkah saya bilang kalau grup ini tanpa vokalis? :mrgreen:

5. Vonda Shepard – Songs from Ally McBeal (1998)
Vonda Shepard jadi penyanyi pertama yang terlintas di kepala saya ketika membicarakan café dan musik latar. Tak heran, di serial sinetron Ally McBeal, beliau memang kerap berperan sebagai penyanyi café yang menghibur Ally dan rekan-rekannya dengan lagu-lagunya yang merdu mendayu…

6. OST – Badai Pasti Berlalu (1977)
Dari tadi musisi luar melulu, yah? Nah untuk musisi dalam negeri, album ini tentu lebih dari sekadar layak dipertimbangkan. Ini album Indonesia terbaik, kata sebagian kritikus musik. Dan, iya, yang saya maksud adalah album OST filmnya yang lama, bukan yang keluaran 2007 tak peduli meskipun di situ ada Vino Bastian yang kewl abis ituh 😳 .

7. U2 – All That You Can’t Leave Behind (2000)
Nggak usah dikomentari ya? Semua yang kenal saya pasti sudah pada tahu lah alasan saya. 😈

*****************************************************************

Yap, itulah tadi daftar tujuh album yang akan diputar di café saya. Jadi, kalau semisal ternyata ketujuh album di atas nggak cocok dengan selera anda, maka bersyukurlah, bahwa ternyata saya memang belum ada niatan untuk membuka café… :mrgreen:

12 thoughts on “7 Albums I’d Play In My Café

  1. saya bersetuju dengan nomor 6 dan nomor 7.
    tapi,

    tak peduli meskipun di situ ada Vino Bastian yang kewl abis ituh

    😯 oemji… Amed suka sama Vino Bastian? *masih bengong*

  2. @ Manusiasuper
    Sekalian aja Stinky atau FBI? :mrgreen:

    @ Aap
    Ya, untunglah…

    @ Itikkecil
    Habis Vino mirip Taumingse sih 😳

    @ Takodok!
    John Meyer kurang cocok dengan image cafe saya kelak..

    @ Soulharmony
    Queen Utara apa Queen Cerucuk?

  3. Hanya setuju untuk nomor 7 dan 6. lantas kalau saya ke sana, saya ganti sendiri playlistnya, karena kemampuan audio mixing saya jelas mengalahkan sang pemilik kafe imajinatif tadi. ha ha ha ha…..

  4. @ Fortynine
    Ah, gimana sih, ngakunya mengalahkan, tapi FBI aja nggak tau….
    FBI boyband yang ada kembaran Mansupnya

    @ Iezul
    Senyum bayar!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *