Yogyakarta dan Memaknai Mimpi

When I hear somebody sigh, “Life is hard,” I am always tempted to ask, “Compared to what?”
– Sydney J. Harris

Telah tiga bulan lebih sejak saya pertama menginjakkan kaki di kota ini. Ya, Yogyakarta, atau Jogja for short, tak dinyana harus menjadi tempat persinggahan saya dalam menimba ilmu kembali; sebuah impian yang telah sekian lama mengendap di alam bawah sadar saya.

Sepuluh tahun lalu, ketika masih berwujud remaja labil, saya pernah nekad mendaftar SPMB di sebuah kampus ternama di Malang; tanpa peduli keresahan orang tua, karena kalau lulus pun, beliau takkan punya cukup biaya untuk mengongkosi kuliah dan hidup di sana.

Jawaban bagi keresahan itu adalah saya tetap lulus, dan tetap kuliah di Banjarmasin. Impian belajar di luar daerah saya pendam dalam-dalam, dan saya tetap jalani kuliah kala itu dengan setengah hati, setengah snob

Lulus kuliah, sempat ada keinginan melanjutkan ke S-2, namun kembali kondisi ekonomi menjadi faktor penghambat. Mimpi itu tetap ada, dan syukurnya tetap terpelihara. Saya bekerja di sebuah radio yang dekat dengan ilmu, kemudian diterima menjadi guru, dan terus mengasah ilmu lewat menjadi tutor persiapan TOEFL. Sesuatu yang baru sekarang saya sadari, adalah persiapan untuk sesuatu yang lebih besar.

Dan “sesuatu” itu datang dengan tiba-tiba, berkelebat seperti ninja, menghampiri tanpa menyapa, membuat saya terpana. Sepucuk surat edaran beasiswa S-2 yang mampir ke tempat kerja membuncahkan kembali mimpi yang pernah lama bersemayam. Tanpa pikir panjang saya telepon istri, dijawab “YA”, dan esok harinya saya antarkan CV sebagai sambutan bagi tantangan baru ini.

Semua berlangsung dengan luar biasa cepat, urusan di kota, izin mengikuti tes, proses ujian, dan pengumuman kelulusan, semua tak lebih dari satu bulan. Akhirnya saya resmi jadi imigran Jogja. 7 Juli 2010, saya tiba di bandara…

Daerah Istimewa Yogyakarta, kota gudeg, kota budaya, kota sastra, kota pelajar yang pengguna jalannya kelihatan tak terpelajar, gudang buku dan ilmu pengetahuan. Kota yang pernah… ah, nevermind

Jogja, panas sekaligus kadang menusuk tulang. Udaranya kering namun kadang hujan badai angin ributnya ampun-ampunan. Sejuk sekaligus penuh polusi asap kendaraan dan debu gunung Merapi… Saya kerap terkena radang dan kumat maag, makan tak nyaman tidur tak tenang, namun anehnya berat cenderung bertambah…

Jogja, dengan segala dinamika-nya, ternyata memukau sekaligus memuakkan bagi saya. Saya mafhum, berbagai aliran ada di sini, beragam pemikiran tumpah ruah, menunggu diciduk orang yang singgah. Di sini saya menemui berbagai karakteristik manusia, menambah kekaguman saya akan beragamnya tipikal makhluk berakal (yang katanya) sempurna…

Jogja, dengan buku dan buku di mana-mana, membuat kalap sekaligus getir mata. Lautan ilmu yang menciutkan diri ini, menambah kepercayaan diri bahwa di hadapan pemilik ilmu, diri ini tak ada apa-apanya. Perkuliahan yang luar biasa, diskusi yang terus menambah wawasan sekaligus kegemasan.

Bahwa selama ini masih banyak yang belum saya ketahui, terlalu banyak kesempatan yang sudah saya lewati, dan bahwa ilmu tak akan habis meski terus digali tak seperti batubara atau bijih besi. Dan sekarang adalah kesempatan emas untuk meraih itu semua, semoga tak tersia-sia begitu saja.

Satu mimpi telah diberi, sekarang mari merangkai mimpi baru lagi…

All our dreams can come true, if we have the courage to pursue them. – Walt Disney

  1. Jogja itu lovely, Med. Mumpung masih di situ, jangan lupa ke objek wisata yang jarang dikunjungi turis. Hehe.
    Yang kedua, makanan. Ehmmm, kalau ini saya mah yakin kamu akan adventurous 🙂
    Yang ketiga, event non mainstream. Wah Jogja asik nih dengan event-event kayak gini.

    Terakhihr ke Jogja, semuanya memang berubah. Tapi entah kenapa, saya masih tetap cinta.

  2. Cie…jadi mahasiwa lagi…ketemu dosen lagi…nongkrong dkampus lagi….

    Trus, nenteng notebook deh kemana mana…wkwkwkwkwk

    10 tahun yg lalu aja, ngerjain tugas musti lari ke rental komputer…ngubek2 per