Elegi Argumentasi Sinetron Yang Ditukarkan

Ketika menulis gonjang-ganjing Putri yang Ditukar dua hari lalu, saya tak menyangka ramenya akan sepanas ini. Sepanjang Rabu kemarin, saya lihat komentar berdatangan silih berganti, dari satu blog ke blog lain. Blog saya yang jablay™ juga ikut menikmati sedikit cipratan keramaian itu, dengan, hingga tulisan ini saya posting, sudah ada 40-an komentar plus beberapa pingback yang masuk. jumlah hits tidak usah saya ekspos deh… :mrgreen:

Hari ini, sepertinya suasana sudah agak mereda. Saatnya saya mencoba membuat keributan baru merangkum apa yang telah dan tengah terjadi, sekalian menanggapi komen-komen di posting tersebut. Bukan apa-apa, sistem reply-di-bawah komen membuat sahut-sahutan komen di blog saya kok jadi amat tidak linear, dan membuat pening sendiri… Ini membuat saya sempat berpikiran untuk mematikan saja fitur reply ini, dan kembali ke metode komentar linear konvensional. Selain itu, sepertinya tidak semua komentar perlu saya komentari, karena sahut-sahutan yang terjadi sebagian sudah mewakili pendapat pribadi saya.

[proses tanggapan dimulai]

– Untuk Om Yulian, yang mengusulkan menjual TV, seperti sudah saya sampaikan, jika solusinya kemudian adalah pasang Sp**dy, well… Sepertinya ada promosi terselubung nih… 😈

– Untuk Mbak Ira, reality show, sebagus apapun, sepertinya ada kecenderungan pula untuk dipanjang-panjangkan jikalau rating-nya bagus, jadi saya khawatir itu acara masak Masterchef akan bernasib serupa, apalagi jika salah satu chef-nya ada yang se-alluring Farah Quinn…

– Untuk Mbak Memeth dan mereka yang mengingatkan nostalgia 2007, saya juga merasakan hal yang sama. Komen dengan intensitas tinggi (di atas 30-an per posting) dengan sebagian besar di dalamnya tidak berkategori junk waktu itu merupakan hal yang biasa. Diskusi mengalir luar biasa seru, dan enak untuk diikuti. Semoga ini bisa jadi awal huru hara baru kebangkitan para blogger renta™.

– Untuk Nonadita, pelajaran yang bisa saya tarik adalah: bolehlah kita mengkritik sebuah produk, tapi juga sebisa mungkin menjaga perasaan yang menikmati. Kritik yang disampaikan tanpa menakar kadar sarkasme di dalamnya, justru bisa memicu resistensi, yang berakibat esensi kritiknya justru terkaburkan. So, berkritiklah dengan bijak… #eh

– Untuk Pak Presiden/Frozen/Esensi/Aris Susanto, terkutuklah Sodara karena membawa kami ke ribut-ribut atas nama opera sabun ini! 👿 . Ah, ya. Saya memahami kok, maksud postingan Sodara, hanya saya memang memilih menulis di bagian itu secara dangkal dan tendensius demikian, biar memicu konflik lanjutan hohoho…
… dan sepertinya saya berhasil, sudah pantes jadi penulis skrip sinetron belum yaa? :mrgreen:
Dan tolong, jangan lagi beranalogi soal masakan di sini, bikin lapar! *rebus mie instan*

– Untuk Momon, kritik membangun, semoga akan terus menjadi bentuk apresiasi dalam setiap karya anak manusia.

– Untuk Bang Dana, seperti yang pernah ditulis di status Mas Gentole Alex©,who will watch the watcher?
Oke, masalah pembodohan, saya juga tak paham benar. Tapi katanya efek audio-visual terhadap anak secara psikologis terkadang bisa sangat luar biasa loh. Itu Game GTA San Andreas katanya dulu pernah dituntut kan, karena dituduh “mengajari” anak berbuat kekerasan. Atau anak yang lompat dari atap karena mengira dirinya bisa terbang pakai sapu layaknya Harry Porter… Ah, urusan ini, Bu Medina sepertinya lebih kompeten menjawab…

– Untuk Alex©, perkara red herring, no need to argue lagi ya? Sudah kau jawab sendiri. Saya memahami apa yang kau sampaikan di berbagai kolom komentar sampai tanganmu kapalan dan lalu kau salahkan Tuan Presiden Tanpa Menteri sebagai kambing hitamnya. Saya juga paham betul gaya tulisanmu yang eksplosif, sinis dan tanpa tedeng aling-aling. Yang saya sayangkan hanyalah, kau kali ini kebanyakan memberi label kepada opponent-mu; yang paling kentara kau sebut ialah “self-acclaimed aktifis socmed” itu. Hem, jika yang kau maksud *ini asumsi saya loh, bisa benar-bisa salah*, adalah bahwa mereka yang kau labeli itu adalah sombong, tinggi hati, snob, opinion-leader wannabe, karena berasal dari Pulau Jawa (baca: Jakarta), terpelajar, berselera tinggi, dan sebagainya, well jangan lupa pula, itu sinetron-sinetron diproduksi di mana? Siapa yang membikinnya? Apa motifnya?

Tidak, saya tidak ingin berargumen lagi, karena sayapun paham, kau tidak sedang mengkritik substansi kritik terhadap sinetron, melainkan attitude para pengkritiknya, begitukah? CMIIW. Sinis balas sinis, egois balas egois.

– Untuk Etikush, rating, sayangnya masih jadi tolok ukur layak tidaknya sebuah tayangan diperpanjang. It’s all about business, and much much money, you know… Dan, ya. PyD itu ratingnya tinggi sekali, lakunya luar biasa. Seorang kawan kemarin balik dari pulang kampung di Bojonegoro, dan cerita betapa hebohnya warga sana menyaksikan sinetron ini.

– Untuk emak, saya tidak masalah emak tahu red herring atau tidak. Tapi gimana kalau gini aja emak, saya jelek-jelekkin sinetron kesukaan emak, juga saya jelekin kebiasaan merokok bapak? Biar adil gitu? Biar saya dicap durhaka sama dua-duanya? Hohoho…

Cat: Emak saya yang aseli sukanya tayangan dangdut, tidak suka sinetron, dan bapak yang saya aseli tidak merokok.

– Untuk Mbak Chic, “mata melotot-lotot dan bibir monyong-monyong dengan layar close-up” itu, buat sebagian orang justru yang paling ditunggu loh, emosi tersalurkan dengan baik ketika melihatnya, baik secara serius maupun karena eneq. Sama aja kayak pas nonton piala AFF, teriak-teriak jumpalitan, sumpah serapah keluar, atau jerit-jerit pas liat Irfan 😳 …
Soal program mendidik, meski bukan di ranah televisi, saya pernah tiga tahun kerja di radio. Di situ banyak hal yang saya pelajari dalam menghasilkan acara bermutu sekaligus mencerahkan, dan banyak sekali mempengaruhi saya ketika menjadi guru sekarang. Sebelum Mario Teguh Golden Ways booming di TV seperti sekarang, sebenarnya sudah banyak motivator lain yang memberi pencerahan. Tapi ya itu, berapa persen sih mereka yang dengerin radio?

– Untuk Sora, itulah sebabnya saya awali posting terdahulu dengan janji itu. Saat ini kalau ngomongin Kominfo pasti ingatnya Pak-Tif-yang-dibully-massal melulu,