Reformasi Nerazzurri

22 Mei 2010 bisa dibilang merupakan hari tak terlupakan bagi Interisti, karena di hari itulah untuk pertama kali dalam 45 tahun, Inter menjuarai Liga Champions Eropa. Dua gol dari Diego Milito membawa Nerazzurri meraih treble pertama mereka sepanjang sejarah. Semua punggawa, pengurus klub, dan fans terlihat begitu berbahagia; namun semua berubah ketika negara api menyerang

Line-up final UCL 2010:
B ki-ka: Pandev, César, Maicon, Chivu, Lucio, Samuel
D ki-ka: Zanetti, Chuchu, Eto’o, Milito, Sneijder

Keesokan harinya tifosi Inter harus menerima kenyataan pahit: The Special One, José Mourinho memutuskan meninggalkan Inter dan bergabung dengan Real Madrid. Dan mulailah periode turbulensi yang gila-gilaan; Inter kembali seperti keadaan mereka di era 90-an dan awal 2000-an…

Selepas Mou, mereka sempat mengontrak empat pelatih berbeda: Rafael Benitez, Leonardo, Gasperini, dan Ranieri. Bersama Rafa inter mendapat dua gelar hiburan, sementara Leonardo sempat memberi Coppa Italia dan harapan besar sebelum akhirnya justru pergi ke PSG di awal musim 2011-12. Gasperini kena sial dengan kalah 4 kali dalam 5 pertandingan. Kursi pelatih diserahkan kepada Ranieri, yang sempat menang beruntun untuk kemudian kalah 6 kali dalam 10 pertandingan. Posisi Inter di liga seperti roller coaster. Sepertiga musim terbenam di papan bawah, sedangkan sisanya berkutat di 5 besar; untuk kemudian mengakhiri musim di posisi enam, bersama pelatih baru mereka yang unyu, Andrea Stramaccioni…

Unyu, ‘kan? *,*

Strama adalah pelatih tim junior Inter yang menjuarai NextGen Series 2012. Dengan usianya yang relatif muda (bahkan lebih muda dari Il Capitano Zanetti), Inter harus melewati fase yang tidak mudah; reformasi skuad. Bisa dibilang, faktor penyebab kegagalan mereka dalam dua tahun terakhir adalah kebijakan transfer dan regenerasi pemain yang mandeg. Siapapun pelatihnya, jika harus mewarisi skuad yang mayoritas kepala tiga, dengan skuad pelapis yang tak seimbang kualitasnya, serta pemain muda yang terlalu ‘mentah’, akan sulit menerapkan rotasi pemain yang ideal.

Usai treble, awal musim 2010-11 Inter praktis tidak membeli satupun pemain penting untuk jangka panjang. Mereka malah menjual Balotelli, yang meski bengal sebenarnya sangat berbakat. Saat transfer musim dingin dibuka, Pazzini, Nagatomo dan Ranocchia sempat jadi penyelamat, meski Pazzo akhirnya melempem juga; awal musim ini ia dibarter dengan Antonio Cassano, dan -untungnya- masih dihargai 7,5 juta Euro. Awal musim lalu keadaan makin memburuk dengan hengkangnya Pandev dan Eto’o. Diego Forlán yang digadang-gadang jadi bintang malah banyak cidera, menyisakan Milito berjuang sendirian di depan.

Musim ini, eksodus bintang era Mancini dan Mou tak terhindarkan. Yang tersisa musim ini tinggal Sneijder, Stankovic, Chivu, dan beberapa pemain Argentina; Il Capitano, Cambiasso, Milito dan Samuel. Sisanya hengkang, putus kontrak, atau pensiun. Berikut beberapa bintang yang telah resmi pergi:
– Francesco Toldo (2010 – Pensiun)
– Mario Balotelli (2010 – Manchester City)
– Marco Materazzi (2011 – “Pensiun”)
– Samuel Eto’o (2011 – Anzhi)
– Goran Pandev (2011 – Napoli)
– Iván Córdoba (2012 – Pensiun)
– Lucio (2012 – Juventus)
– Júlio César (2012 – QPR)
– Douglas Maicon (2012 – Manchester City)
Beberapa dari mereka telah bertahun-tahun mengenakan jersey biru-hitam, sehingga momen perpisahan terasa begitu mengharukan.

Momen menyé-menyé itu…

Di sisi lain, dengan masuknya para pemain baru yang usianya relatif lebih muda, dan dengan gaji yang lebih rendah tentunya, Inter mendapat dua keuntungan sekaligus; peremajaan skuad dan mengamankan UEFA Financial Fair Play. Para pemain baru yang lebih murah ini diharapkan dapat mengisi kekosongan yang ditinggalkan bintang-bintang tersebut, dengan level permainan yang, yaa tidak perlu terlalu tinggi lah. Lagi pula, Inter ‘kan hanya bermain di Liga Europa musim ini ;).

Line-up lawan Vaslui (Europa League 2012-13):
B ki-ka: Castellazzi, Palacio, Juan, Silvestre, Samuel
D ki-ka: Jonathan, Zanetti, Chuchu, Coutinho, Yuto, Cassano

Dengan komposisi tim seperti sekarang, Interisti bolehlah berharap banyak bisa menantang Juventus, yang sudah sejak dua musim lalu melakukan regenerasi. Yang jelas Inter harus bisa berada di atas Milan, yang baru kena shock therapy setelah secara mendadak kehilangan Ibra, Thiago Silva, dan Cassano ;).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *