Gadgets

Gadget-Gadget Sepanjang 2019

#2019GantiPresiden #2019KebanyakanGadget

Maret lalu saya sudah apdet ponsel Android tiga tahun ke belakang. Mendekati akhir tahun, saya baru sadar kalau yang dibeli sepanjang 2019 ini lumayan banyak juga. Sebagian karena memang kebutuhan, sebagian lagi karena nafsu impulsive buying. Jadilah, mungkin perlu juga saya rekap gadget yang saya beli setahun ini. Tidak hanya hape yang akan saya bahas, beberapa aksesoris kecil juga akan saya masukkan di bawah.

Oya, sebagai pengingat, awal 2019 itu saya masih berbulan madu dengan Xiaomi Redmi Note 5 yang baru saya beli kurang dua minggu, sementara Mami terpaksa pakai Lenovo A7000+ lagi berhubung ASUS Zenfone Max Plus-nya masuk bengkel untuk kedua kalinya. Si Mbak masih setia dengan Vivo Y21-nya, dan si bocah cukup puas dengan Tablet Advan i7 Plus-nya.

1. Roker RK28K

Waktu itu earphone Xiaomi saya putus setelah setahun dipakai. Ke toko aksesoris malah ditawari mas-nya produk ini, lumayan juga buat icip-icip perangkat audio kere hore. Sampai sekarang masih tokcer suaranya, walaupun sedikit masalah di filter yang nanti akan dibahas di bawah.

2. realme 2

Seperti sudah saya ceritakan dulu, saya itu udah nyaris beli ASUS Zenfone Max Pro. Hanya saja, berhubung hape Mami error sampai dua kali mati total, akhirnya saya urungkan dan lebih memilih ReNo 5. Untuk Mami, akhirnya kami pilih brand baru tapi OPPO ini. Sampai saat ini masih nyaman untuk dipakainya sehari-hari.

3. Tripod Excell Promoss

Untuk menunjang hobi fotografi, akhirnya saya beli tripod juga. Selain untuk menopang kamera DSLR Nikon D3300, saya sering juga pakai tripod ini untuk keperluan rekaman video menggunakan hape. Generik saja, cukup ringan tapi lumayan kokoh dan multifungsi.

4. Redmi Note 7

Jreng-jreng!!!

Salah satu contoh jepretan paling awal saya di Note 7

Ini hape sebenarnya tak terniat untuk dibeli. Hype-nya di awal peluncuran emang gede banget, dan jujur saya kepincut, banget. Tapi saya menahan diri karena masih sayang dengan Note 5 yang baru aja dibeli. Apa daya, si Om mendadak nawarin beliin langsung dari Jogja, free ongkir pula kata beliau.

Kebetulan waktu itu hape-nya lagi berstatus “gaib” di Kalsel. Kalaupun ada, selisih harganya lumayan tinggi. Jadi ketika si Om nawarin dengan harga resmi, runtuhlah pertahanan saya. Note 5, yang baru dipakai lima bulan, seperti biasa, sudah ada yang siap menampung dan saya lego di harga masih lumayan bagus.

Dan ketika akhirnya hape sampai di tangan, inilah menurut saya pencapaian hape tercanggih yang pernah saya miliki. Bodi kaca hitam yang cantik, ditambah SoC Snapdragon 660 yang lumayan kenceng dan kamera rasa 48MP. Bermain game di hape ini berasa mulus banget, dan jepretannya juga rasanya wah banget. Saya jadi lebih sering pasang foto yang #NoFilter di Instagram, dan untuk keperluan rekaman video hasilnya juga nggak mengecewakan.

Kurangnya? Hape ini berasa lebih cepat panas dibanding Note 5, terutama kalau dipakai motret dan rekam video. Bahkan saya sempat menerima peringatan overheating saat ngerekam video di lapangan terbuka.

5. Mi Band 2

Oya, pembelian Note 7 harga resmi ini ternyata dengan catatan kita harus beli printilan lain di Mi Store. Akhirnya saya pesen lah perangkat wearable ini berhubung lumayan miring harganya. Jam yang bisa ngukur langkah dan denyut nadi ini saya kasihkan ke Mami. Kebetulan dia lebih doyan olahraga ketimbang saya yang mager.

6. Roker Cloud Type-C OTG Cable

Note 7 adalah gadget pertama saya yang pakai USB Type-C. Akibatnya, saya perlu ganti kabel OTG buat nyambung ke Meteor Mic Samson. Dengan harga 50 ribu, kualitasnya relatif lebih baik daripada kabel OTG abal-abal.

7. T5 Bluetooth Speaker

Satu lagi perangkat audio kere hore yang saya beli. Lumayan kenceng suaranya, dan cukup empuk untuk dipakai mendengarkan musik dan podcast.

8. Unitek HDMI to VGA Converter

Perangkat ini khusus saya gunakan di sekolah, untuk menyambungkan PC All-in-One yang tak punya slot VGA ke proyektor LCD.

9. Wellcomm Power Bank

Berhubung Mami ada perjalanan jauh ke Kotabaru, dan power bank saya hilang di Kiram, jadilah beli baru. Produknya generik saja, warna merah, kapasitas 10.000 mAh, asal ada lah.

10. Mi True Wireless Earbuds Basic

Ini nih yang murni impulsive buying banget, sih. Kebetulan lagi musim beli airpods kawe gitu di kalangan rekan sesama guru, dan pas earphone Roker saya yang masih pakai kabel itu filter kanannya lepas sehingga volume berasa nggak imbang. Jadilah saya beli TWS ini, yang ternyata suaranya lumayan empuk.

11. Mi Band 4

Semakin lama saya semakin terjebak dalam ekosistem Xiaomi lah. Anggaplah versi murahnya ekosistem Apple gitu. He.

Smart band ini baru sebulan ini saya beli, dan lumayan membantu mengukur pergerakan, walaupun target jumlah langkah hanya sekali terlampaui, yaitu ketika saya ke pantai + bukit + mall dalam sehari (dapat 14rb langkah). Sisanya ga terlampaui mengingat mager parah yang sepertinya harus jadi resolusi 2020 saya untuk diatasi deh.

12. realme XT

Menjelang akhir tahun, ada dua peristiwa besar terjadi.

Pertama, service center ASUS tetiba mengontak Mami, melapor bahwa Max Plus yang hampir setahun ditinggal di sana mendadak bangkit lagi. Diambil-lah hape itu dan beneran bisa jalan dengan catatan: ada beberapa titik di layar sentuh, terutama bagian kanan bawah, yang nggak berfungsi. Tak apalah, masih nyaman dipakai ternyata, dan baterainya juga masih lumayan awet (namanya juga seri Max). Saya jadikanlah hape sekunder buat nonton, buka medsos, dan baca e-book.

Kedua, Vivo Y21 yang sudah hampir empat tahun dipakai si Mbak mendadak bootloop. Si Mbak pun galau dan dengan pedenya saya menjanjikan hape baru kalau hasil rapornya lumayan bagus. Rapor bagus tercapai, hape baru pun ditagih. Tadinya mau saya tawari Vivo lagi, tapi ketika sampai toko, kami kok hilang minat melihat spek versus harganya yang kurang enak.

Ehem, kebetulan, ada satu hape yang sejak kemunculannya sudah bikin saya kepincut diam-diam. Nggak ngerti juga, tapi ketika rilisnya yang hampir berbarengan dengan Redmi Note 8 Pro, saya kok lebih naksir XT.

Iya, kok nggak Note 8 (yang udah Pro itu)?

Saya udah pakai Xiaomi sejak akhir 2015. Dari Note 3, 4, 5 dan 7. Saya juga pakai Mi Band dan Mi TWS. Tapi entah kenapa, meski hype-nya kembali menghebohkan jagat per-gadget-an, Note 8 Pro ini sama sekali nggak menarik minat saya. Mungkin karena nggak yakin dengan chipset Mediatek-nya, mungkin juga karena berasa nanggung di layar yang masih pakai LCD, dan mungkin karena pengalaman pakai Note 7 saya yang tak senyaman dulu lagi: hapenya panasan dan mata cepat lelah melihat layarnya. Intinya, saya pengen ubah rasa.

Dan melihat Mami kelihatan nyaman banget pake realme 2 yang padahal cuma pake chipset menengah ke bawah, saya mulai melirik brand baru padahal OPPO ini. Saya berusaha melupakan pengalaman buruk saya dengan OPPO dulu dan berharap realme ini punya komitmen lebih baik terkait kualitas.

Akhirnya dengan setengah nekat setengah impulsif, saya putuskan ngambil realme XT varian tertinggi, yang kebetulan kena diskon 300k. Tetap saja, ini hape termahal yang pernah saya ambil, berhubung sebelumnya saya nggak pernah ambil hape di atas 3 juta. Dan beneran naik level lah kali ini pengalaman ber-gadget saya.

Ini hape pertama saya dengan kapasitas memori terbesar: 8/128, sensor kamera terbanyak: 64MP quad-camera, layar super AMOLED dengan fingerprint di layar, Snapdragon seri 700-an pertama, dan desain paling premium.

Hape ini baru dua minggu ini saya pakai, dan setelah sekian tahun pakai MiUI, Color OS jadi terasa lebih terbatas kustomisasi-nya. Di sisi lain, banyak fitur baru yang bikin saya lebih betah memandangi layar XT, plus itu hasil fotonya luar biasa jahatnya. realme XT saya harap bisa saya gunakan dalam jangka panjang sebagai daily driver. 2020 tidak boleh ada beli gadget baru lah, kalau bisa 2021 juga.

Bagaimana nasib Note 7? Akhirnya Mbak dengan senang hati mewarisinya. Sudah saya wanti-wanti juga bahwa itu hape kaca, sehingga kebiasaannya menjatuhkan hape harus dikurangi. Kemarin saya juga akhirnya nemu hardcase buat perlindungan tambahan. Semoga awet deh di tangannya.


Demikianlah berbagai gadget yang saya beli sepanjang 2019. Nggak bagus memang kalau dipandang dari sisi ekonomi, terlalu boros. 2020 saya harus lebih mengerem naluri kayak gini. Harus berpuas diri dengan yang ada, dan tak tergoda barang baru yang kayaknya akan terus dikeluarkan pabrikan smartphone.


Edit (6 Jan 2020): Owalah ternyata ada beberapa aksesoris lagi yang belum masuk. Ya udah saya tambahkan, sehingga menambah banyak daftar gadget di atas…

2 thoughts on “Gadget-Gadget Sepanjang 2019

  1. Banyaknya yang ditukar. SAMSUNG masihlah batraynya boros?

    2019 nukar aku nukar Vivo S1, bukan karena spesifikasinya, tapi karena bisa dicicil 12 bulan dengan bunga 0%. Maklum, kada baduit mandapat SPPD (Surat Perintah Perlu Duit), apalagi dapat gratifikasi hasil main catur atur jabatan dan posisi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *