Serba-Serbi Linux Akhir 2020

Cukup lama nggak update perkembangan pemakaian Linux saya sekian bulan terakhir, gegara ikut apa itu tantangan menulis yang akhirnya mentok di hari ke-12. Nanti lah kalau rasa ringan hati disambung lagi. Sekarang saya pengen bahas sedikit soal pemakaian Linux saja di beberapa perangkat yang saya gunakan.

Peppermint OS 10 Respin

Saya install OS ini di flash disk Kingston 16GB saya. Lumayan kalau lagi pengen pakai Linux di PC sekolah. OS-nya bagus dan berasa ringan, walau ya karena boot dari USB, waktu loading jadi lebih lama. Kayaknya kalau PC lama ada kesempatan diperbaiki, mau saya pasangi OS ini juga.

Mandalorian PC

Sejauh ini, OS yang saya pakai masih sama; Manjaro GNOME di SSD dan MX Linux KDE di HDD. Sempat mau saya tukar tempat, tapi saya kok merasa masih kurang nyaman main game di MX.

Akhirnya pembagian tugasnya saya perjelas: MX buat kerja, ngetik dokumen, edit PDF, atau kerjaan lain yang berbasis browser. Manjaro buat urusan multimedia, rekaman suara, edit video, dan tentu, main game.

Oya, sejak ganti PC, saya masih pakai kartu grafis lama (HIS Radeon 6570 keluaran 2013) karena ada masalah saat bermain game di VGA bawaan PC-nya. Nah, beberapa hari lalu justru VGA card tua ini yang kipasnya bunyi nyaring entah kenapa. Saya pun mencabutnya dan sementara pakai VGA onboard.

Eh ternyata dipakai main game malah grafiknya jadi lebih bagus dan smooth. Teknologi VEGA 3-nya lebih terasa meningkatkan kualitas dibanding pakai HIS dulu. Sepertinya setelah update sekian bulan ini, ada peningkatan performa buat VEGA 3 di Athlon 3000G ini. Masalah grafik hancur di Factorio juga tak lagi saya temukan. Bagus lah.

Tampilan Manjaro GNOME saat ini dengan Theme WhiteSur-light

ASUS X550ZE

Setelah lama pakai Solus, saya sempat nyoba install Linux Mint di laptop panasan ini. Masalah muncul, seperti biasa, dengan konektivitas bluetooth laptop ini yang emang sering bermasalah.

Akhirnya, sekarang saya malah menginstall Manjaro di X550ZE ini, yang meski pas awal panasnya mengkhawatirkan, usai update jadi lumayan ringan dipakainya. Yang penting buat laptop ini mah asal bisa putar video film anak-anak buat si bocah. Dia yang banyak pegang sih, sekarang.

Lenovo Ideapad 110-14IBR

Di postingan soal Mando dulu saya sempat menyinggung laptop Mami yang mati total. Nah, beberapa bulan lalu ada kawan yang baru buka toko komputer dan jasa servis. Laptop pun coba mereka perbaiki, dan ternyata dua hari berselang laptopnya beneran hidup lagi! Saya pun jadi harus install OS.

Pilihan pertama tentu Manjaro GNOME, eh VGA-nya yang cuma Intel HD tak kuat; berasa banget patah-patahnya. Beralihlah ke yang lebih ringan: Manjaro XFCE. Awalnya lancar, lalu masalah muncul ketika kita colok HDD eksternal atau flash disk. Entah kenapa file manajernya tak responsif, setengah jalan drive ter-unmount sendiri, dan saya bahkan tak bisa mengakses partisi lain yang padahal sama-sama ada di laptop. Kayaknya laptopnya memang gak kuat pakai Manjaro.

Beralihlah ke Linux Mint, dan ternyata laptop ini berjodoh dengan Mint. Semua lancar, termasuk manajemen file dan deteksi drive eksternal. Printer juga jalan normal. Jadilah, hingga sekarang, Linux Mint dipakai permanen di sana.


Oke, sementara segitu dulu update soal pemakaian Linux saya di berbagai perangkat. Tahun depan semoga masih ada kesempatan bereksperimen deh.

Leave a Reply

Your email address will not be published.