Internazionale Milano Scudetto Serie A 2020-21

AKHIRNYA!!!

Setelah penantian 11 tahun, Inter merebut kembali juara Serie A setelah di pekan 34, Atalanta yang jadi pesaing terdekat secara matematis sudah tak bisa lagi mengejar perolehan poin mereka.

Aduh, lama sekali tidak menulis judul seperti ini. Dulu pas klub biru hitam ini tengah jaya dan ngeblog masih ngetren, hampir tiap musim saya merekap perjalanan mereka meraih gelar Scudetto.

Sedihnya, setelah meraih Treble satu-satunya di 2010, prestasi klub turun drastis. Tertutupi oleh kejayaan Juventus yang meraih juara hingga 9 kali beruntun, Inter sibuk dengan masalah internal seperti pergantian kepemilikan, bahkan sempat dipimpin Erick Thohir, hingga akhirnya sepenuhnya diambil grup Suning.

Pergantian pelatih berkali-kali dilakukan, dari Ranieri, Mazzarri, sampai mendatangkan kembali Mancini toh tak membuahkan hasil. Sempat menjanjikan di tangan Spalletti, akhirnya bersama Antonio Conte Inter kembali berjaya.

Generasi baru Inter, paling senior cuma Handa yang bermain sejak 2012

Di sisi pemain, generasi Treble akhirnya berakhir usai Il Pupi Zanetti pensiun pada 2014, bersamaan Cuchu, Samuel, dan Milito juga meninggalkan Nerazzurri. Generasi baru pemain Inter didominasi pemain medioker, ketika hanya Mauro Icardi yang bisa dibilang sebagai bintang. Sisanya entah belum matang atau sudah lewat masa jayanya. Klub hanya berjuang mengejar posisi empat, atau setidaknya dapat lolos ke Europa League. Medioker sejadi-jadinya…

Nah, kalau Inter kemudian musim ini bisa memimpin Serie A hingga belasan poin dari posisi kedua, itu tentu tak lepas dari jasa…

Manchester United!

Lukaku sudah mencetak 44 gol sejauh ini bersama Inter.
Terima kasih Manchester United!

Haha! Iya, Interisti harus banyak berterima kasih karena beberapa pemain United dalam dua musim terakhir perannya lumayan krusial. Musim lalu, ada Romelu Lukaku, Alexis Sánchez, dan Ashley Young yang membawa tim ini ke peringkat dua Serie A dengan selisih hanya satu poin, dan ke final Europa League walau tak juara. Musim ini ada Matteo Darmian yang beberapa kali mencetak gol krusial yang membuahkan tiga poin.

Secara umum skuad Inter musim ini memang agak lumayan lah. Meski di sektor penjaga gawang, Handanović sering bikin blunder, pengalamannya masih bisa lah memimpin lini belakang, apalagi beliau saat ini dipercaya sebagai kapten. Pertahanan yang diisi trio Skriniar-Bastoni-de Vrij lumayan solid, dan kedatangan Hakimi memperkaya sektor sayap yang bisa dirotasi sesuai kebutuhan bersama D’Ambrosio, Young, Perišić, dan Darmian.

Di lini depan, kehadiran Sánchez bisa jadi solusi kalau duet Lukaku dan Lautaro mandeg, sementara Eriksen menjadikan variasi serangan Inter jadi lebih berkelas.

Akan tetapi, pemain favorit saya musim ini tentunya adalah Tom Holland Nicolò Barella!

Permainan dan work rate-nya mengingatkan saya pada Steven Gerrard muda. Semoga ia bisa konsisten jadi pemain penting buat tim ini hingga bertahun-tahun ke depan kalau gak dibajak klub kaya.

Harapan untuk musim depan? Entahlah. Situasi pandemi yang serba tak pasti berdampak sangat parah pada keuangan semua klub. Suning bahkan berencana menjual klub ke investor lain. Hasil buruk sebagai juru kunci di fase grup UCL juga jadi bukti kalau tim ini belum cukup kuat bersaing dengan klub elit Eropa. Mungkin kalau ada beberapa pemain Manchester United lagi yang bisa diangkut, boleh juga, siapa tahu dapat Dean Henderson atau Scott McTominay kan lumayan…


Trivia: 2011 saya pernah kepengen banget Alexis Sánchez ke Inter. Baru kesampaian bertahun-tahun kemudian…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *