Serba-Serbi Linux Akhir 2020

Cukup lama nggak update perkembangan pemakaian Linux saya sekian bulan terakhir, gegara ikut apa itu tantangan menulis yang akhirnya mentok di hari ke-12. Nanti lah kalau rasa ringan hati disambung lagi. Sekarang saya pengen bahas sedikit soal pemakaian Linux saja di beberapa perangkat yang saya gunakan. Peppermint OS 10 Respin Saya install OS ini di […]

Continue Reading

Bertualang di KDE

Kalau saya ditanya, apa Desktop Environment (DE) favorit saya di Linux, mungkin saya bisa langsung jawab GNOME. Alasannya? Karena itu aja yang sering dipakai, sesederhana itu. Jawaban ini membuat saya merasa seolah ganti DE itu tak semudah gonta-ganti distro. Hal itu terbukti saat saya mencoba MX Linux, di mana saya langsung gak sreg dengan tampilan […]

Continue Reading

Mencoba MX Linux

Ketika ganti mesin, SSD sepenuhnya saya format sebagai partisi sistem, sementara Harddisk lama dijadikan penyimpanan utama. Nah, di HDD sebenernya masih ada partisi kosong bekas instalan Ubuntu. Di sinilah saya kepikiran untuk menambahkan satu distro sebagai sarana eksperimen. Pertanyaannya, mau pakai distro apa? Yang langsung terpikir adalah MEPIS; rasanya kepingin bernostalgia dengan distro pertama saya. […]

Continue Reading

Lima Alasan Menggunakan Manjaro

Catatan: Postingan kali ini ditulis dari MX Linux :)) Setelah ganti mesin dan banyak mengutak-atik Manjaro, tak bosan saya mengatakan, ini distro Linux paling nyaman buat dipakai sejauh ini. Saya memutuskan menjadikan distro ini sebagai daily driver di Mandalorian karena beberapa alasan berikut. 1 – Arch + GNOME = Cantik Sejak boot ke Live USB, […]

Continue Reading

Mencoba Manjaro

Sejak pertama migrasi ke Linux hampir setahun ini, tak banyak distro yang saya coba. Zorin atau Kubuntu misalnya, cuma sekadar diunduh ISO-nya, dicoba bentar, bingung, lalu diganti yang lain. Sempat juga bereksperimen di USB Drive dengan Peppermint dan Puppy Linux, dan hasilnya kurang lebih sama: banyak bingungnya. Hitungannya baru tiga distro yang benar-benar pernah dicoba […]

Continue Reading

Merakit PC (Lagi)

Call me old-fashioned lover boy, tapi kalau disuruh memilih, saya lebih suka bekerja di depan PC dibanding laptop. Entah kenapa, ada nuansa yang tak bisa terganti ketika klak-klik mengetik di keyboard besar diiringi suara kipas casing. Memang, sekarang keberadaan PC makin tergeser oleh perangkat macam laptop dan gadget portabel lainnya. Laptop dan smartphone memang lebih […]

Continue Reading

Menjajal Bermain Game di Linux

Setelah laptop, objek oprekan Linux berikutnya adalah PC lama saya. Kebetulan di rumah ada PC yang sudah cukup berumur, dipakai sejak 2012. Prosesor-nya cuma AMD APU A-4 3400 dengan RAM 4GB. Yang agak lumayan cuma VGA-nya yang saya tambah kartu grafis HIS Radeon HD 6570. Hampir setengah tahun ini PC ini nganggur karena harddisk-nya error. […]

Continue Reading