Pemimpin Yang Kita Perlukan

Pemilihan Kepala Daerah, atau biasa disingkat Pilkada di daerah tempat tinggal saya, sebentar lagi akan berlangsung. Tak kurang dari tiga bulan lagi, tepatnya 2 Juni 2010 nanti, di provinsi ini akan ada pemilihan lima bupati/wakil bupati, dua walikota/wakil walikota, serta gubernur/wakil gubernur. Jadi total ada tujuh daerah kabupaten/kota plus provinsi yang akan menjalani proses “pesta demokratisasi” tersebut. Bisa dibayangkan, kebijakan lima tahun di tujuh kabupaten/kota dan satu provinsi ini akan ditentukan dalam satu hari!

Mungkin karena “madu” pilkada itu begitu manis dan memikat, cukup banyak orang yang merasa “siap memimpin daerahnya” maju dan mencalonkan diri. Kampanye pun marak dilakukan (sebagian bahkan sudah mulai beraksi sejak pertengahan tahun lalu!). Baliho dan banner bertebaran di mana-mana, macam-macam klaimnya. Janji-janji memenuhi sudut kota dan desa, dan berbagai “pendekatan” gencar diadakan, dengan bermacam kedok. Tak lupa, koran, radio dan televisi ikut dipenuhi slot iklan dan advertorial para calon tersebut.

Pendeknya, pesta demokrasi ini benar-benar jadi ajang tebar pesona.

Lalu, sementara para calon (juga tim sukses mereka) sibuk berebut simpati rakyat, apakah kita, masyarakat Kalsel, yang menjadi target marketing mereka, sudah menentukan pilihan?
Apakah kita sudah yakin dengan calon yang akan kita pilih nanti?
Apakah keyakinan kita sudah dilandasi dengan data dan fakta yang valid dan relevan?

Dan apakah mereka, siapapun yang terpilih nanti, mampu menjadi pemimpin yang sesuai keperluan kita?

Masalahnya adalah, yang saya lihat, masih banyak orang sekitar saya terjebak dalam “pola yang sama dengan yang sudah-sudah.” Rata-rata berniat memilih pemimpin atas dasar pencitraan; yang fotonya di baliho ganteng, yang kata iklannya setia pada keluarga, yang kata promosinya rajin sowan ke alim ulama, yang kata balihonya anti korupsi, dan yang ngakunya memperjuangkan rakyat…

Ternyata kita masih memilih atas dasar suka, senang, dan perkara intangible lainnya. Padahal, yang kita pilih adalah pemimpin, bukannya Idol. Pemimpin punya banyak konsekuensi dan tanggung jawab yang tak mesti dimiliki seorang artis.

Akan tetapi, itu tadi, politik pencitraan, peran media, iklan, dan uang masih menjadi jerat yang efektif dalam meraup suara “rakyat”. Bisa ditebak, yang menang nanti adalah yang keluar modal paling banyak, yang sukses meyakinkan warganya kalau ia “lebih baik” dari calon sebelah, yang menang dalam pamer pencitraan dan kemapanan. Apapun caranya, tak masalah. Dan usai terpilih, yang pertama dilakukan adalah balik modal dulu, puaskan kepentingan mitra kampanye dulu, baru setelah itu peduli pada kepentingan rakyat, setelah dekat-dekat kampanye berikutnya, biar bisa terpilih lagi (!).

Politik itu kejam, politik itu kotor, kata orang.

Jadi, apakah kita siap untuk memilih pemimpin yang benar-benar kita perlukan, bukan sekadar kita sukai?

tadinya mau dikasih judul “pemimpin yang kita butuhkan”, tapi di sini maknanya agak ambigu…

9 thoughts on “Pemimpin Yang Kita Perlukan”

  1. Rata-rata berniat memilih pemimpin atas dasar pencitraan

    Lha, di negara kita biasa toh kaya gitu. Kayanya pemilu presiden juga kemarin kaya gitu deh, sampe saya agak bingung mau milih siapa. 😕

    “pemimpin yang kita butuhkan”

    😆

    Reply
  2. soal kepemimpinan dengan pola pilkada macam sekarang, outputnya nyaris ga bisa saya percaya..

    ya belum apa-apa sudah ngeluarin duit banyak buat kampanye,
    tanpa tau itu duit dari mana..

    tapi paling nggak ya berusaha memilih yang diyakini bisa..

    dan kau benar, soal pimpinan
    kebutuhan rakyat terlalu besar
    😆

    Reply
  3. saya mau pemimpin yg jujur dan bisa menerima laporan dari rakyat seperti saya, agar saya bisa melaporkan bahwa ada BANYAK bawahan beliau yg sering saya temui melakukan pelanggaran….

    Reply
  4. Disini juga mau pilkada walikota, dan sampai hari ini sudah ada sepuluh pasangan balon walikota dan wakilnya. Tapi mereka2 yang (IMO) paling berpeluang untuk menang, kok sepertinya adalah orang2 yang selama ini punya track record buruk soal korupsi ya? Ah, gak ada birokrat sini yang bersih korupsi kok, yang membedakan cuma nominal yang diraup saja

    Reply
  5. @ Lambrtz
    Yup, saya dulu (2004) juga kayak gitu, memilih cawapres yang saya kagumi citra dan kegesitannya, hingga pada akhirnya lima tahun kemudian, saya memilih untuk tidak memilih siapa-siapa.

    😆

    Hoy, ngetawain apa???

    @ Warm

    ya belum apa-apa sudah ngeluarin duit banyak buat kampanye, tanpa tau itu duit dari mana..

    Ini dia, Om, KPU, panwaslu, dan pemilih kok ya nggak curiga ya? Atau pura-pura dalam perahu, tutup mata tutup telinga tutup hidung?

    dan kau benar, soal pimpinan
    kebutuhan rakyat terlalu besar
    😆

    Ketawa juga???? Ada apa ini ada apa?

    @ Aidicard
    Yang nyuruh bawahannya melanggar siapa ya sebenarnya? 🙄

    @ Jensen
    SEPULUH??? Saya kira tujuh calon di Banjarbaru saja sudah luar biasa… Ternyata banyak betul ya orang-orang yang begitu berambisi jadi penguasa… soalnya mungkin itu satu kesempatan untuk menutupi borok masa lalu…

    *menyiapkan diri untuk maju 2015 mendatang*

    @ Aap
    Pertanyaannya, kenapa harus perlu modal besar Om? Untuk apa sebenarnya itu semua?

    Reply
  6. Benar kata saudara. Kita sangat memerlukan figur pemimpin daerah yang benar-benar pro rakyat. Bukan slogan, bukan pula iklan. Capek sebenarnya jadi rakyat, disuruh milih, dijejali informasi, tapi ujungnya ‘begini-begini saja’.

    Meski demikian, kita mesti optimis. Itulah perlunya mengenali sejarah para calon. semua yang baik dan buruk kita tampung dan saring. Kira-kira banyak buruknya atau baiknya? Dengan begitu kita bisa menemukan pilihan yang benar-benar hasil ‘penyulingan otak’. Bukan spt saudara bilang, ” Rata-rata berniat memilih pemimpin atas dasar pencitraan; yang fotonya di baliho ganteng, yang kata iklannya setia pada keluarga, yang kata promosinya rajin sowan ke alim ulama, yang kata balihonya anti korupsi, dan yang ngakunya memperjuangkan rakyat…

    Reply
  7. @ Walikota Banjarbaru
    Aha, “penyulingan otak” sepertinya istilah yang menarik… Masalahnya siapa yang menyuling otak siapa?

    Reply

Leave a Comment