Culture

Makna Puasa

Hari Sabtu lalu (12/9) saya mengunjungi Bude-nya istri, seorang pengelola sebuah panti asuhan putri di Banjarmasin. Sebenarnya ke sana sih sudah sering, hanya saja baru kali ini kami berkunjung saat Ramadhan.

Satu jam lebih kami ke sana, yang terjadi adalah ada lebih dari lima orang dari lima instansi/perusahaan yang berbeda datang, meminta data penghuni panti, untuk kemudian biasanya dilanjutkan dengan undangan buka puasa bersama atau pemberian paket lebaran untuk anak-anak panti…

Bude bercerita kalau selama bulan puasa, anak-anak panti memang kebanjiran “orderan”, dan hampir tak pernah berbuka di panti. Berbagai paket juga mereka terima dari orang-orang dan perusahaan/instansi nan dermawan tersebut. Setidaknya selama sebulan penuh mereka beroleh kegembiraan yang nyaris takkan mereka rasakan selama 11 bulan berikutnya…

Dari dialog dengan Bude, saya teringat kembali komentar sinis salah seorang rekan yang memang sudah terkenal sinisnya bahwa kita saat ini sudah jadi bagian dalam industri agama. Bahwa ibadah puasa yang sejatinya bersifat kontemplatif dan sangat personal sifatnya, jadi terdistorsi oleh hal-hal yang sifatnya kebendaan.

Saya menghargai sepenuhnya niat baik para dermawan tersebut, meski saya terkadang bertanya-tanya, adakah keinginan untuk membantu dengan ikhlas dan tulus masih mengalahkan kepentingan korporasi, promosi, report dan dokumentasi? Apa sejatinya makna anak-anak yatim piatu dan dhuafa itu bagi mereka?

Dan, yah, entah kenapa, makna bulan suci ini makin tak terdefinisikan buat saya, dari tahun ke tahun. Kini saya memandang bulan ini sebagai bulan di mana para aktris berbondong-bondong jadi model mendadak pakaian muslimah, meninggalkan pakaian seksi mereka untuk dipakai lagi bulan depan, bulan di mana band-band alay saling adu kemampuan menggubah lagu-lagu bernuansa religi untuk konsumsi RBT, dan ah, paket-paket bernuansa Ramadhan terjejer di reklame, menunggu diserbu konsumen. Panganan, kue dan pasar wadai membanjiri tepi jalan, diiringi dentuman dinamit dan roket setengah jadi yang membawa kita pada nuansa “timur tengah” (baca: Iraq dan Afghanistan) …

Menjelang lebaran suasana makin parah. Mall dan department store dirubung pembeli untuk memborong barang yang tarifnya dinaikkan untuk kemudian didiskon sehingga makin “menggiurkan”. Harga-harga, dari cabe merah keriting, daging ayam, sampai tiket pesawat, dll menjulang tinggi. Jalan raya, terminal, pelabuhan dan bandara dipadati manusia yang mau mudik dan pulkam. Semua turut dalam histeria massa, yang ujung-ujungnya bermuara kepada: habiskan uang dan THR kalian sampai sekering-keringnya, ho ho ho…

Akan tetapi, saya sepenuhnya juga sadar, pengalaman spiritual itu amatlah personal sifatnya. Dan masing-masing kita mungkin punya cara dan persepsi yang berbeda dalam memaknai bulan ini. Terlepas dari kolektifnya aktivitas yang terjadi di bulan ini, mungkin masing-masing dari kita tengah meniti jalan masing-masing menuju ke sana, tempat tujuan kita masing-masing. Toh saya tak bisa membaca pikiran masing-masing manusia kan?

Dan apa pula salahnya dengan kolektivitas ini? Ini kan sudah membudaya? Baju baru, mudik, ketupat, dan peminta-minta kan sudah jadi pemandangan yang jamak? Ngapain harus dikritisi? Lagi pula ujung-ujungnya saya kan juga terjebak pada suasana yang sama…

Halah, never mind lah. Anggap saja ocehan di atas sekadar rant nggak penting di bulan fuasa ini. Sebenarnya di postingan saya cuma pengen menyampaikan sesuatu:

Dari tanggal 14 sampai 25 September 2009 saya sekeluarga akan mengadakan “tur” ke Surabaya, Sidoarjo, Tulungagung dan Malang. Aktivitas utamanya sih mengunjungi para kerabat istri saya di kota-kota tersebut. Semoga bisa diseling dengan kegiatan lain, menyambangi para blogger di kota-kota itu, misalnya, lihat sikon dulu deh…

Dan selama di sana, nomor Flexi saya akan dinonaktifkan sementara. Kalau ingin mengontak saya, bisa ke nomor Starone di sembilan kosong satu satu dua kosong satu. Kode area menyesuaikan.

Satu hal lagi, mohon maaf lahir batin untuk semua, berhubung setelah postingan ini mungkin aktivitas nge-net saya akan terhenti untuk sementara. Mohon maaf juga kalau pulangnya saya nggak berani menjanjikan oleh-oleh atau apapun juga ke siapa saja, ekonomi sedang krisis, Man

Anyway, selamat menjalani sisa puasa, selamat berlebaran bagi yang merayakan, semoga kita benar-benar beroleh kemenangan, atas hawa nafsu yang bisa benar-benar kita kendalikan, dan bukan sebaliknya. Amin.

9 thoughts on “Makna Puasa

  1. Setuju bang .. semoga niat para dermawan itu bener² tulus bukan hanya sekedar ingin pamer.

    Selamat jalan bang Amed beserta keluarga .. semoga liburan dan lebaran kali ini menyenangkan, dan kembali ke Bjm lagi dengan suasana yang baru.

    Minal Aidin wal Faidzin … Mohon maaf lahir dan batin

  2. saya sih berbaik sangka saja. mungkin saja kunjungan panti asuhan adalah bagian dari CSR mereka yang perlu dilaporkan ke masyarakat. mungkin lho…
    anyway, selamat jalan… semoga selamat sampai di tujuan….

  3. Saya sinis??? Apaaa??? Jelas-jelas hidup saya penuh keoptimisan!

    Yah, puasa itu kalau dari sisi agama juga urusan manusia sama tuhannya. Puasa itu bukan pamer lemes, ngantuk, lelah sok menderita pada sesama manusia…

    Puasa itu bukan berbondong-bondong tarawehan menyesaki mushola yang biasanya hanya penuh nyamuk… Bahkan konon baginda nabi juga sholat taraweh imaman-nya cuma 3 hari awal ramadhan, sisanya beliau habiskan dirumah (data belum dicross cek, tapi pernah saya baca)

    Puasa itu ibadah yang hanya tuhan tahu balasannya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *