Culture

Tentang Sampah

Banjarbaru, kota idaman, kotanya indah, damai dan nyaman
Masyarakatnya, tertib dan sopan, taat ibadah, taqwa dan beriman
Kota ini, ramah lingkungan, tertata rapi dihiasi taman

(Mars Banjarbaru)

Berlokasi di jalan Gotong Royong III, Banjarbaru, plang peringatan di atas dicetak digital dengan latar kuning dan huruf merah, semuanya kapital, striking. Pilihan katanya pun tanpa tedeng aling-aling; menggunakan istilah “warik”, yang dalam bahasa Banjar berarti harfiah monyet. Tulisan ini seolah mewakili rasa jengkel dan kesal pembuatnya.

Di Banjarbaru, tulisan senada kelihatan mudah sekali dijumpai. Tulisan macam ini umumnya dipasang di tanah kosong tak terurus yang ditumbuhi ilalang, atau di tembok tinggi di pertigaan, atau di dekat jembatan. Tulisannya bervariasi, dari yang standar “dilarang buang sampah disini”, yang sopan halus “bapak-bapak ibu-ibu, tolong jangan membuang sampah di sini, lingkungan kita jadi bau”, sampai yang bernada mengancam seperti “kalau ketahuan buang sampah di sini warga akan mendenda anda seratus ribu rupiah”.

Buat saya ini ironis. Di tengah kegelimangan prestasi kota ini yang kabarnya menjuarai Adipura empat tahun berturut-turut, masih saja warganya suka buang sampah di tanah kosong, padahal seingat saya, di sekitar lingkungan saya saja, ada empat TPS resmi. Memang letaknya tak terlalu dekat dari rumah, tapi toh masih terjangkau dengan kendaraan. Akan tetapi, sepertinya lebih dekat dan lebih mudah untuk membuang sampah di tepi jalan, apalagi kalau daerahnya agak sepi dan terpisah dari rumah warga. Celakanya, Banjarbaru punya banyak sekali lahan kosong di antara perumahan warganya…

Memanglah mungkin kota ini berkembang pesat, kelas menengahnya memenuhi sudut-sudut kota, dan konsumerisme warganya meningkatkan gairah perekonomian. Sayangnya, oleh warganya, mungkin pengelolaan sampah cukup diserahkan ke pemerintah saja, toh mereka sudah berpengalaman dengan prestasi Adipura 4 tahun berturut turut itu. Warga terima beres saja. Buang sampah di pinggir jalan tak masalah, di sungai apalagi. Mereka yang punya mobil juga tak perlu sediakan tempat sampah di mobil, karena bak sampah mobil-mobil kreditan itu segede jalan raya. Toh kalaupun ada warga lain yang terganggu, kesal dan mangkel, mereka tak bisa berbuat apa-apa juga, paling banter cuma bisa menulis: “yang buang sampah di sini WARIK!”

Nah, pemirsa, bagaimana dengan sampah di kota Anda?

4 thoughts on “Tentang Sampah

  1. Di kota tempat saya tinggal? Ndak ada tuh penghargaan macem2 gitu dan ndak ada yang nempel pengumuman kayak bla…bla… warik gitu. Tapi warga lokal sini emang taat peraturan, yang suka asal buang itu biasanya orang asing (seperti saya misalnya) : mrgreen:
    Tapi eh, saya pernah dengar cerita ada orang lokal yg manggil polisi gara2 ada yg buang sampah di tanah kosong. Lalu sampahnya dibuka dan ditemukan beberapa surat dan kartu pos dgn alamat yg sama. Polisi nyamperin itu alamat dan yg buang sampah sempat bolak balik kantor polisi berkali kali buat laporan hingga akhirnya didenda.

    1. Duh, kalau bandingannya Jepang ya masih jauh ya Om… Sampai segitunya cari orang yang buang sampah. Kalau polisi sini disuruh menyelidiki hal begituan, bisa habis waktu mereka…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *