Gaji Guru Minimal 2 Juta, Apa Saya Bahagia?

Banjarbaru, 16 Agustus 2008

Pidato RAPBN Presiden SBY yang banyak dikritik sebagai Pidato “Kampanye” saya saksikan dengan harapan yang membuncah akan perbaikan terhadap perekonomian saya para PNS, baik struktural maupun fungsional.

Dan ketika bagian kenaikan gaji diumumkan, harapan itu sepertinya sudah setengah terwujud. Katanya akan ada kenaikan rata-rata 15%, dan khusus guru golongan rendah pendapatannya minimal 2 juta…

Apakah saya bahagia? Di satu sisi, iya. Kenaikan gaji, selain tentunya bisa membantu pelunasan cicilan kredit rumah, motor, TV, kulkas, laptop dan tagihan Speedy :mrgreen: , tentunya diharapkan akan meningkatkan kinerja para birokrat yang katanya belum optimal tersebut. Dan khusus bagi guru, penghasilan sebesar itu diharapkan menambah motivasi mereka untuk memberikan yang terbaik bagi kemajuan pendidikan, seperti yang diamanatkan dalam pembukaan UUD 1945, “mencerdaskan kehidupan bangsa”.

Akan tetapi, ada pertanyaan yang masih menggantung di pikiran saya. Tadi dikatakan, guru golongan rendah yang akan mendapatkan 2 juta tersebut. Sekali lagi, berarti apakah hanya guru yang punya golongan yang perekonomiannya akan membaik? Pertanyaan selanjutnya, apakah semua guru sudah memiliki golongan? Bukankah ada guru yang berstatus tidak tetap? Bagaimana dengan nasib mereka? Kapan urusan pengangkatan mereka akan diselesaikan?

Di sekolah saya sekarang, setidaknya ada tujuh orang guru berstatus GTT, sebagian besar sudah berkeluarga dan punya anak. Penghasilan mereka pun tak bisa dikatakan layak, dengan hanya mendapat insentif sebesar tarif Speedy personal. Untuk memenuhi kebutuhan, mereka harus mengajar di dua hingga empat sekolah sekaligus, pagi dan sore, Senin sampai Sabtu.

Salah seorang guru bahkan harus menempuh jarak sekitar 40 kilometer karena bertempat tinggal di kabupaten sebelah! Saya hanya merasa tidak tahan membayangkan beliau harus menempuh jarak begitu jauh demi penghasilan seminim itu.

Sementara kalau ditanya pengalaman mengajar, tentunya saya kalah jauh karena baru mengajar sekitar 5 bulan, sementara mereka ada yang sudah belasan tahun mengajar. Lalu layakkah saya mendapatkan penghasilan sebesar ini dengan pengalaman dan kemampuan mengajar demikian minim? Sementara mereka?

Di atas itu semua, tetap ataupun tidak, mereka tetaplah GURU. Yang setia membagi ilmu mereka demi kemajuan siswanya. Saya tidak tahu, apa tidak ada bentuk penghargaan pemerintah dan sekolah yang lebih baik dari sekadar insentif seadanya itu?

Bagaimana Bapak-Bapak di pemerintahan? Solusi apa yang terbaik bagi mereka?

18 thoughts on “Gaji Guru Minimal 2 Juta, Apa Saya Bahagia?”

  1. Hmmm, pidato kampanye?

    He he, SBY itu suka bunuh diri lewat pernyataan pernyataanya, semoga tuhan melindungi beliau dari kebahagiaan dan umur panjang

    Mungkin Si Butet sudah kehabisan akal untuk kampanye, sehingga Guru pun dihitam kambingkan sebagai sarana kampanye. Tapi saya ga yakin berhasil.

    Lagipula, gaji guru memang sudah seharusnya naik kok. Ga perlu si Butet Kampanye juga masyarakat sudah minta duluan tuh.

    atau mungkin Si Butet Yudoyono belum tau bahwasanya guru yang mengajar cape cape bahkan kadang kadang dimarahi orangtua siswa ketika anaknya gagal naik kelas gajinya yang sepengkat kalah jauh dengan gaji camat pelit yang kerjaannya setiap hari buang buang duit negara??

    Reply
  2. fikiranmu selalu dalam akan suatu objek, med ! coba semua berfikir layaknya kaw, dari semua sisi, tidak hanya dari sisi 2 juta-nya saja iya kan ? sebenernya saya juga agak meragukan apakah kaw dan mansup itu layak dapet 2 juta yah ? hehehe

    Reply
  3. seringkali akan menjadi sulit Om, jika kita mencoba mendekati persoalan ini dengan 2 pendekatan yang berbeda (sistem dan nurani) pada saat ini secara paralel. tapi bukan berarti tak bisa!

    Sistem yang ada saat ini adalah kelanjutan dari sistem yang lalu, dan proses perubahan sistem secara gradual lebih mampu menjawab persoalan. Sepertinya ini pula yang telah dilakukan oleh pemerintah kita.

    Jika pemerintah memprioritaskan guru bantu pada sekolah pemerintah, tentu ini bisa dimaklumi & sudah menjadi keharusan, namun juga harus memperhatikan dasar pengangkatan sang guru tersebut.

    Berbeda dengan guru yang bekerja dan dipekerjakan oleh yayasan pendidikan tertentu, maka yayasan itu sendirilah yang bertanggung jawab, ini sangat logis. (Karena ada kasus guru yayasan menuntut kepada pemerintah, lha… yayasannya mau ngapain, mungut iuran spp aja?)

    lebih detil soal kepegawaian sih mending tanya beliau.
    😀

    Reply
  4. Sebenarnya yang perlu disalahkan bukan pemerintah, pemerintah hanya berlaku sebagai pelaku dari sistem dan kebijakan pemerintahan saja. lha wong mereka juga masih mengharapkan gaji juga kok ( ya ga sih?)
    Sebenarnya yang perlu diusir dari Negri ini adalah orang² yang telah menjual murah aset dan sumberdaya Negri ini.
    Kalau dihitung² aset dan sumberdaya alam kita ga bakal habis kalau dibagi sama-rata perkepala kepada penduduk Negri ini, bahkan masih sangat cukup untuk menjamin hidup sodara² kita yang busung lapar di Afrika, korban perang di Israel dll.
    Kalau saja semua orang serakah di Negri ini mau berbagi, tentunya semua guru bisa merasakan hidup makmur dan sejahtera seperti janji “Pancasila” kepada rakyatnya.

    Reply
  5. @ Fortynine
    Wah, komen anda OOT neh.. Karena tidak menyentuh substansi postingan ini dan lebih banyak koar-koar gak jelasnya..

    atau mungkin Si Butet Yudoyono belum tau bahwasanya guru yang mengajar cape cape bahkan kadang kadang dimarahi orangtua siswa ketika anaknya gagal naik kelas gajinya yang sepengkat kalah jauh dengan gaji camat pelit yang kerjaannya setiap hari buang buang duit negara??

    Pengalaman pribadi yaa? 😉

    @ Mfajrinet
    Pejabat ndak mungkin bodoh. Katanya, orang bodoh itu jujur… :mrgreen:

    @ Goenawan Lee
    Dan semakin jadi masalah bagi saya ketika melihat keadaannya langsung, Pak Goen…

    @ Rahmat Sandi
    Yah, semoga ada solusi agar semua bisa kenyang…

    @ Hariesaja
    Sipil itu artinya apa sih Mas?

    @ Warmorning

    sebenernya saya juga agak meragukan apakah kaw dan mansup itu layak dapet 2 juta yah ? hehehe

    Heh? Tidak usah diragukan lagi Om, kami memang meragukan :mrgreen:

    @ Pakacil

    Sistem yang ada saat ini adalah kelanjutan dari sistem yang lalu, dan proses perubahan sistem secara gradual lebih mampu menjawab persoalan. Sepertinya ini pula yang telah dilakukan oleh pemerintah kita.

    Tapi rakyat selalu minta cepat, Om.. Apa perlu ada revolusi? Atau macam “kembali kepada Khilafah” gitu aja?

    Saya juga masih kurang paham, ada guru bantu, ada GTT dari Dinas Pendidikan, dari Depag, ada yang SK Kepala Dinas, SK Walikota, bahkan SK Kepala Sekolah doang… Tapi saya pilih mengklasifikasikan mereka semua sebagai Guru Tidak Tetap mengingat hari esok mereka yang masih “Tidak Tetap”…

    @ aRuL
    Saya sendiri pernah menanyakan hal itu pada salah seorang GTT, taunya muka beliau malah muram dan berkata,

    Itu kan masih katanya… Kenyataannya? Sudah belasan tahun saya menunggu, Pak…

    @ Carbonezed
    Saya tidak menyalahkan, karena saya tahu menyalahkan juga bukan solusi. Saya cuma minta sedikit perhatian pemegang kebijakan untuk yang tak terperhatikan.

    Sebenarnya yang perlu diusir dari Negri ini adalah orang² yang telah menjual murah aset dan sumberdaya Negri ini.

    Ah, tapi mereka kan sudah investasi… Sudah memajukan perekonomian bangsa ini… Mana dong “jatah” untuk mereka? 👿

    Kalau saja semua orang serakah di Negri ini mau berbagi, tentunya semua guru bisa merasakan hidup makmur dan sejahtera seperti janji “Pancasila” kepada rakyatnya.

    Masih ingat kan, di SD dulu, pelajaran “membagi” selalu diajarkan terakhir setelah menambah, mengurangi dan mengalikan..

    @ Max Breaker
    Entahlah, dan saya juga tak berminat untuk tahu… Saya justru lebih ingin mempertanyakan berapa yang akan diterima kepala sekolah dan kepala dinas sekalian… berapa kali lipatnya GTT kah?

    Reply
  6. penomena guru bantu & guru tidak tetap memang cukup memprihatinkan. dengan peran dan tanggung jawab mereka yg sedemikian besar dlm mendidik dan memberikan pengajaran pd anak2 didiknya, tidak diimbangi dengan kesejahteraan yg memadai & layak, bahkan terkadang kejelasan setatus mereka pun terombang-ambing…

    yaah… itulah indonesia,
    tempat dimana para pahlawan tidak mendapatkan penghargaan yg selayaknya… 😐

    seandenya guru adalah bagaikan buruh pabrik, dimana murid2nya adalah bahan baku di pabrik.
    kalok buruh pabrik males2an dan teledor kerja gara2 upah gak sesuai plus setatus kepegawaian gak jelas, maka barang reject dan cacat prodaksi di pabrik pun berpotensi meningkat, lha kalok guru2 nya yg males2an dan teledor mengajar gara2 upah gak sesuai plus setatus kerja gak jelas…?!?

    *kebetulan kedwa orangtua saya jg guru, guru stm & guru sd, dan sekarang sudah pensiun, jd sudah kenyang menjalani kehidupan keluwarga guru sedari masih piyik 😀 (hampir) tiada barang dirumah tanpa nyicil :mrgreen:

    Reply
  7. Hebatnya profesi guru ini.. walaupun guru “belum sejahtera” tetapi salute buat mereka yg masih berniat untuk menjadi guru. Artinya mereka masih “memiliki asa” akan adanya perbaikan bagi kesejahteraan profesi guru.
    Yg pasti Guruku idolaku… halaaaah,,

    Reply
  8. Menurut saya, gaji daripada guru itu… musti dinaikkan dulu sebesar janji yang disampaikan daripada mentri Bambang Dibyo. paling tidak uji coba gitu… kalo bisa lanjut, ya diteruskan… tapi kalo repot, ya dikembalikan lagi seperti semula, begitu…

    Reply

Leave a Comment