Personal

Orang-orang Tercinta

Nenek (2005)

Kita tahu, hidup memang diliputi misteri, gelap, dan tak mudah ditebak apa maunya. Kita tahu suka-duka, bahagia-derita, ada batasnya. Tapi, tiap kali duka dan derita itu mendadak hadir, kita masih saja tersentak. Kita tidak siap.

(Kutipan dan judul di atas saya ambil dari Esai Kang Sobary, Orang-Orang Tercinta.)

Bahwa suatu saat masing-masing kita akan pergi, itu hal yang sudah pasti sifatnya. Bahwa suatu saat orang-orang terdekat akan mendahului kita, itu juga keniscayaan. Seperti yang disarikan dari kutipan di atas, kita sudah tahu, tapi kadang tetap saja tidak bersiap.

Dan ketika saat kepergian yang sudah pasti itu tiba, kenapa masih ada sesak? Kenapa tiba-tiba saja, seperti ada tangan tak-kasat-mata yang menghujam, menembus iga, dan meremas jantung? Rasa sakit yang tak terkata, sebenarnya, dan tak jarang, melinangkan air mata.


Hampir tiga tahun lalu, saya sudah tahu kondisi anak kembar saya yang lahir prematur berat. Saya sudah tahu 1,4 kilo bukan bobot ideal seorang bayi… Saya sudah tahu organ-organ pernafasannya tak berfungsi optimal. Namun ketika kepergian itu tiba, tetap saja rasa sakit itu ada.

Hampir dua tahun lalu, saya sudah tahu penyakit ibunda seorang sahabat memang sudah kronis. Saya sudah tahu, bahwa ketika dibawa ke Jogja pun kanker yang menggerogoti beliau sudah sampai stadium 4. Namun ternyata sakit yang sama tetap mampir di ulu hati.

Setahun lalu, saya sudah tahu nenek saya sudah tua dan sakit-sakitan..Namun tak urung, kenangan masa lalu dan sesal masih menghadirkan rasa sakit yang sama.

Dan saat ini, kembali, ibunda seorang sahabat, yang sudah saya kenal lebih belasan tahun, yang sudah seperti ibu saya sendiri, kepergiannya mengguratkan rasa sakit yang sama: yang membuat saya meringis terhujam sepanjang perjalanan.

Yeah, mungkin ini wujud lemahnya saya sebagai manusia, mungkin ini bentuk ketidak siapan saya, atau bahkan mungkin ini hanya ekspresi ketidakrelaan. Apapun itu, yang jelas yang saya bisa tangkap adalah, saya merasakannya karena saya masih merasakan cinta, kepada orang-orang tercinta.


*Foto di atas adalah foto (alm) nenek saya. Nenek yang merawat saya sejak kecil hingga sekarang. Nenek yang juga nenek teman-teman saya. Nenek yang tak jemu menceritakan kembali kepada orang lain -siapapun itu- tentang kisah telenovela atau film India kesukaannya. Nenek yang kerap membangunkan sahur si Parid dan si Kamay tak peduli apakah mereka puasa atau tidak. Nenek yang bahkan mendekati ajal pun masih mengkhawatirkan keadaan saya. Singkatnya, nenek semua orang.*

21 thoughts on “Orang-orang Tercinta

  1. Jodoh, Rezeki, Mati, adalah misteri. semua ada kadarnya masing-masing. Hal itu juga merupakan ujian. sejauhmana kita bertahan. Turut berduka. Semoga yang ditinggalkan mendapat ketabahan.

  2. Kepergiaan beliau yang mengguratkan kepedihan namun tetap diikhlaskan … semoga “org² tercinta” mendapatkan tempat yang layak disisi-Nya, aminnn

  3. Mungkin itu bagian dari silaturahim = silah (nyambung) rahim (kandungan). Mas Amed bukannya lemah tetapi perasaan cintalah yang mengiringi itu. AKhirnya turut berduka atas mereka yang dicintai itu meninggalkan kita lebih dulu, semoga mereka mendapatkan cinta dari Yang Maha Cinta. 😀

  4. Nenek gw yang asli ada dua, tapi sejak gw menghirup udara dunia yang tertangkap mata hanya satu, mbah putri yang selalu menderita. Gw cu2 tersayang.
    ada dua lelaki tua terhebat di dunia gw, yaitu ayah & mbah kakung. dan dua-duanya pergi meninggalkan janji yang tak terpenuhi. Bukan janji yang membuat gw menangis, tapi ribuan kenangan pedih dan manis yang ampek sekarang susah ditepis.

  5. Masih dalam suasana duka…semoga amal ibadah bunda fadil diterima disisiNya..dan fadil sekeluarga diberikan ketabahan..

    Saya belum pernah liat bunda pas sehat…

Leave a Reply to Hera Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *