Diselipin, eh, Disiplin

Pernah suatu saat, di dinding luar ruang guru tempat saya mengajar, ada segores tulisan yang cukup menohok. Tulisan sederhana itu ditulis dengan spidol hitam, singkat saja.

Pa, bu, jangan santai. Kasian kami siswa…

Ketika pertama membaca tulisan itu, jujur, hati saya panas juga, dan tak urung bertanya-tanya, siapa yang nekad menulis tulisan itu. Kebetulan, saat itu akan diadakan rapat seluruh guru. Dan di depan kami semua, Pak Kepala Sekolah kemudian berujar,

Tak usahlah kita cari tahu siapa yang menulis. Yang penting isi pesannya kita resapi, sebagai pembelajaran buat kita masing-masing.

Segera saja kepala saya terasa dingin mendengar pesan beliau. Ya, alih-alih emosi dan lupa diri, pesan tersebut mestinya bisa saya sikapi dengan bijak, sebagai bahan introspeksi diri. Toh pada kenyataannya, sebagai guru, saya pun masih banyak melakukan tindakan tidak disiplin dan teledor lainnya. Dan ini yang harus terus saya perbaiki, mengingat sejatinya saya ini cuma pelayan, pelayan pendidikan.

Entah kenapa, tiba-tiba saya merasa déjà vu ketika membaca pesan senada terpampang di ranah yang lebih luas ketimbang dinding ruang guru, Rabu (12 Mei 2010) lalu. Kali ini isi pesan, yang dipajang di halaman SMS publik koran lokal tersebut menyorot perilaku “sebagian oknum dosen” di Prodi tempat saya kuliah dulu, yang katanya kerap datang terlambat, bahkan absen mengajar. Si penulis pesan mengaku sebagai “kami mahasiswa”.

Reaksi saya campur aduk membacanya. Pertama, tertawa, melihat “borok” kampus saya dibelejeti di depan umum macam begini, oleh mahasiswanya, anonim pula. Kedua bingung, karena seingat saya saat kuliah dulu, dosennya relatif disiplin dalam kehadiran, lebih-lebih dalam (pemberian) tugas. Dan saya belajar banyak dari kedisiplinan mereka. Ketiga, lagi-lagi, mempertanyakan si penulis pesan ini, siapa dia, semester berapa, dosen-dosen mana saja yang dimaksud, dan bermacam prasangka lainnya.

Lalu kembali, saya teringat dengan pesan di dinding, dan melihat kesamaan makna dari pesan yang mereka sampaikan. Mungkin selama ini saya kurang menyadari, bahwa merekalah, siswa dan mahasiswa, yang merupakan tuan bagi kita, guru dan dosen. Kita ada untuk melayani mereka, memberi mereka ilmu dan pendidikan, karena itulah esensi keberadaan kita sebenarnya. Mereka, dan orang tua mereka adalah warga negara indonesia, yang telah membayar pajak pada negara, yang kemudian uangnya diputar, dan dibagi-bagi ke kantong kita, dalam bentuk gaji dan tunjangan, terlepas apakah kita sibuk mengeluhkan kecil dan tak cukupnya. Singkatnya, mereka yang membayar kita. Kita pelayan bagi mereka. Bagaimana selayaknya seorang pelayan bertindak? Tidak disiplin, sepertinya tak termasuk di antaranya…

Ah, pelajaran sikap dan perilaku disiplin saat pra jabatan dulu tentunya bukan sekadar slogan, melainkan harus diterapkan dalam tindakan nyata. Tak usahlah menunggu teguran atasan apalagi surat peringatan resmi, saya harus bisa bercermin melihat kelemahan diri sendiri.

Bahwa ada banyak guru di luar sekolah saya sekarang, dan banyak dosen lain di kampus selain prodi saya dulu, yang jauuuuh lebih tak disiplin dibanding saya dan dosen-dosen saya, bahwa ada banyak PNS yang jauuh lebih berantakan pekerjaannya dibanding para guru dan dosen, dan bahwa ada banyak oknum pejabat dan PNS pajak yang dengan kejinya merampok uang rakyat, itu cerita lain untuk saat ini™. Itu bukan pembenaran yang bisa dijadikan excuse untuk saya berlaku sama. Yang jelas, saya harus dapat mengambil hikmah di balik kedua pesan tersebut, karena sejatinya, tak harus menunggu orang menunjuk hidung saya, untuk sadar dan mawas diri.

Most of us can read the writing on the wall; we just assume it’s addressed to someone else.

~Ivern Ball

Posts created 267

4 thoughts on “Diselipin, eh, Disiplin

  1. Yupe .. betul sekali bang, bahwa ternyata masih ada yang lebih tak disiplin dari yang kurang disiplin. Ibaratnya ” di atas langit masih ada langit”.

    Paling tidak, dengan pesan yang disampaikan secara tidak langsung itu akan membuat si pembaca pesan tersebut sadar, sukur-sukur mau berubah menjadi lebih baik .. he he 🙂

  2. Betul bang, Itu salah satu bentuk korupsi juga, selain kapur tulis dan spidol yang terbawa pulang. kadang banyak oknum tidak sadar, menuntut hak dan melupakan kewajiban. atau alasannya “ah toleransi,” semoga dunia pendidikan lebih baik esok. terima kasih atas koreksinya….. hehehe salah kenal. hi..hi….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top