Liverpool FC Juara EPL 2019-20

Setelah penantian panjang selama 30 tahun, akhirnya Liverpool meraih gelar juara liga mereka yang ke-19, dan jadi yang pertama di era Premier League.

Saya baru kenal bola tahun 1997 dan hingga kini saya sudah menyaksikan mereka meraih hampir semua trofi besar, baik domestik maupun internasional, namun tak sekalipun mereka berhasil menjuarai Liga Inggris. Makanya, ketika performa mereka musim ini luar biasa bagusnya, hanya kalah dan seri satu kali, sisanya menang, gelar juara sepertinya sudah di genggaman. Tinggal dua kemenangan sebelum mengunci titel.

Lalu wabah Corona melanda…

Semua aktivitas berhenti, tak terkecuali pertandingan Liga. Dari pertengahan Maret, fans terpaksa menunda perayaan, hingga akhirnya Liga diputuskan boleh berjalan kembali sejak sepekan terakhir.

Dan kemenangan Chelsea atas Manchester City tadi malam memastikan bahwa poin Liverpool sudah tak terkejar lagi. It’s official, Liverpool juara English Premier League 2019-2020!

Tentu, siapa lagi yang paling layak dapat ucapan selamat selain Jürgen Klopp. The Normal One membuktikan ucapannya di 2015 saat direkrut, bahwa kalau ia diberi waktu, ia akan memberi gelar buat The Kop.

Liverpool, meski dulunya klub legendaris, di era Premier League ini bukanlah yang paling tajir secara finansial. Di era di mana para bintang seantero dunia merumput dan para pelatih terbaik beradu taktik, klub elit lain bisa dengan mudah berlomba berebut merekrut pemain mahal. MU, City, dan Chelsea, secara finansial lebih sehat, dan tak heran mereka bergantian meraih gelar juara EPL sekian tahun belakangan ini.

Sementara Liverpool, bahkan nyaris bangkrut di era Gillett-Hicks, untuk kemudian diselamatkan oleh Mr. Henry dan FSG-nya. Keuangan klub direstrukturisasi dengan pendekatan super pelit. Ingin beli satu pemain bintang? Jual dua tiga pemain dulu. Ada pemain yang performa-nya ngamuk? Yakinlah musim depannya bakal dijual ke klub lain dengan harga tinggi. Seiring berjalannya waktu, keuangan klub makin sehat, memang, dengan mengorbankan performa di lapangan hijau. Hanya satu piala mikimos yang didapat di 2012, selebihnya nihil gelar.

Untungnya kultur Liverpool yang jarang gonta-ganti manajer masih dipertahankan. Sepanjang saya mengikuti klub ini, mereka memang jarang berganti pelatih. Dari era Roy Evans ke asistennya, Gerrard Houlier rentangnya lebih tujuh tahun. Rafa enam tahun, dan Rodgers 3 tahun lebih dikit. Cuma periode panik Hodgson dan King Kenny yang rada bentaran. Klopp sendiri, pelan tapi pasti, membangun rezimnya sendiri di Liverpool.

Pemain-pemain bertalenta diboyong, dan beberapa yang dianggap toxic dibuang, seperti kasus Balotelli dan Sakho. Posisi yang jadi titik lemah di musim-musim sebelumnya ditambal, dan setelah dapat duit besar dari jualan Coutinho, klub membeli Virgil dan Alisson dengan harga lumayan tinggi, dan terbukti jadi pilar yang kokoh di lini pertahanan.

Akan tetapi, pembelian Klopp favorit saya tetap saja pemain ini:

View this post on Instagram

Yes I am.

A post shared by Andrew Robertson (@andyrobertson94) on

Andy dibeli dari klub degradasi, Hull City “hanya” seharga delapan juta Pounds. Bandingkan, misalnya, dengan harga Luke Shaw atau Benjamin Mendy. Hanya saja, harga kadang tak bisa jadi patokan potensi, dan di sini saya harus mengakui kejelian Michael Edwards. Bersama Trent, bek sayap ini jadi kunci serangan Liverpool sepanjang musim. Semangat, determinasi, dan akurasi passing mereka berdua luar biasa.

Tapi ya memang, Liverpool di era FSG, terutama setelah Klopp direkrut, berproses menjadi klub dengan target jangka panjang yang jelas. Apa yang diraih di 2020 ini adalah buah kesabaran, kepercayaan, dan dan keteguhan hati segenap klub, juga fans kardusnya yang sudah terbukti tahan banting dan tahan buli.

Akhir kata, terima kasih Liverpool, pecah telur juga akhirnya…

Share this

Leave a Comment