Culture, Personal

Mukena Baru

Mukena

Mukena ini ditawarkan dengan bandrol 60 ribu; tapi dengan kelihaian khas ibu-ibu, bisa dibawa pulang cuma dengan 35 ribu.

Pertanyaan ini mungkin akan bias gender, tapi saya jadi penasaran, kenapa kaum perempuan kok bisa keukeuh dalam hal tawar-menawar? Apalagi di pasar tradisional di mana harga-harga barang sifatnya absurd.

Tapi saya jadi teringat cerita seorang kawan, ketika mantan ceweknya (yang sekarang sudah jadi istri) ke toko sepatu, dan menawar sepatu seharga hampir seratus ribu ke kisaran 25 ribu. Si kawan sampai merasa sangat malu. Tapi tahukah kejadian selanjutnya? Sepatu terbeli dengan harga… 35 ribu…

Jadi pertanyaannya adalah, apa kecenderungan suka menawar itu intuisi perempuan saja, ataukah terbentuk dari “kejamnya” para pedagang dalam mematok harga?

Lalu bagaimana dengan Department Store dengan harga yang fixed dan diimingi diskon? Berapa ya nilai barang yang mereka jual sebenarnya?

25 thoughts on “Mukena Baru

  1. tergantung juga…. tapi memang harus ditawar dengan serendah-rendahnya Med. Kalau gak balik modal gak bakalan mau mereka. kalau masih dikasih berarti kan masih untung….
    *sedang belajar nawar*

  2. apa kecenderungan suka menawar itu intuisi perempuan saja?
    Saya tidak percaya itu intuisi perempuan saja. Laki² cuma males ribet. Untuk kasus tertentu, saya kalau belanja selalu tuntut 2 hal, diskon & bonus sama penjual. Untuk kasus tertentu, cuma minta diskon/menawar. Beda lagi kalau beli sayur dan sejenisnya, ga pake nawar, karena untung penjualnya sudah kecil, kasian.

    ataukah terbentuk dari “kejamnya” para pedagang dalam mematok harga?
    Untuk kasus dan lokasi tertentu, IYA.
    Makanya lebih baik kita kenali dulu sifat umum penjual pada suatu daerah/pasar. Ada yg umumnya menawar hanya sampai 25% dan ada pula yg harus sampai 50%-75%. Saya pernah beli jaket yg ditawarkan seharga 75rb, dealnya pada 15rb !!!

    Berapa ya nilai barang yang mereka (dept. store) jual sebenarnya?
    Tidak tau persis. Tapi yg saya tau adalah cerita dari salah satu GM jaringan retail nasional, bahwa profit mereka sesungguhnya diambil dari pembelian ke produsen, bukan hasil penjualan ke konsumen. Lagi pula konsep penjualan macam dept. store pada dasarnya adalah melayani perilaku, bukan aktivitas/keperluan.

    Menawar ga perlu malu, tapi lebih baik pakai trik khusus, terutama kalau menghadapi PKL di Kota tertentu yg konon suka coba memaksa calon pembeli yg terlanjur menawar.
    *jadi ide tulisan nih kayaknya, trik menawar saya khusus untuk kasus macam ini*

    Panjang ya…
    bukan berarti doyan belanja lho..

  3. 5 setengah tahun lamanya saya hidup bersama orang yang memiliki bakat dan keinginan luar biasa dalam hal tawar menawar harga. Bahkan saya sampai bosan jika harus ke pasar atau belanja bersamanya.

    Saya sampai sekarang tidak berniat mengasah bakat dan belum berminat dalam hal tawar menawar sehingga lebih suka belanja ketempat tempat yang memang harganya sudah ditentukan. Contohnya ya minimarket. Karena untuk urusan ini saya malas repot. Survey harga saja malas.

    apa kecenderungan suka menawar itu intuisi perempuan saja

    Yang jelas perempuan lebih berminat untuk menawar. Meski tidak menutup kemungkinan untuk kaum pria sebagai negotiator ulung.

    ataukah terbentuk dari “kejamnya” para pedagang dalam mematok harga?

    Pada kasus pasar tungging mungkin; IYA!!

    Lalu bagaimana dengan Department Store dengan harga yang fixed dan diimingi diskon? Berapa ya nilai barang yang mereka jual sebenarnya

    Entahlah. Mungkin mereka punya perhitungan sendiri semacam memperhitungkan ongkos kirim. Mungkin komentar Pakacil bisa lebih detail menjelaskan soal ini.

    Namun menurut informasi dari Wulan, di kota kelahirannya harga barang barang yang dijual di sini adalah 2 kali buka lipatan ketimbang harga sana. Sehingga saya mengendus adanya penggelembungan harga kepada barang barang ketika terpajang di toko atau Department Store. Mungkin ada banyak faktor di sana, termasuk didalamnya meninggikan harga guna mengaji pegawai, operasional toko. Atau memang ingin menerapkan sistem ekonomi kapitalisme secara kaffah.

    Ada juga kemungkinan lain; ketika membeli banyak barang dari tangan pertama, maka kecepatan lakunya barang bisa berdampak pada keuntungan. Karena cepatnya perputaran barang dan uang, sehingga tak perlu mematok harga tinggi untuk barang dagangan yang cepat laku.

    Dan sebenarnya ente kan punya kegiatan ekonomi di depan rumah di Bjm? Kenapa ga nanya sama Mama aja sekalian. :mrgreen:

    *itu Nadira apa gagerah pakai mukena??*

  4. Kalau di “banua lima” alias di Hulu Sungai Kalimanan Selatan jangan coba-coba menawar separo bisa-bisa penjual langsung mau. Karena rata-rata harga barang dipatok lebih dua kali lipat oleh penjual dari harga sebenarnya. Jadi pandai-pandai menawar saja.

    Ada satu rahasia nih, yang saya peroleh dari seorang teman pedagang. Bila penjual mengatakan “ah nggak bisa, tambah dikit lagi lah..” itu artinya sebenarnya dia udah untung. Jadi bila penjual mengataka segitu jangan mau ditambah lagi harga beli kita karena “yakin dech” kalau kita pura-pura mau pergi maka akhirnya penjual berkata “OK dech segitu ya”.

  5. Pengalaman belanja di pasar martapura, menawar separuh harga pun harganya masih tergolong mahal 🙁

    dibandingkan belajar menawar, solusi paling gampang ya ngajak cewek waktu mo belanja, kasih daftar belanjaan plus duit, kemudian biarkan sang dewi melakukan tugasnya 😆

  6. @ Teddy
    Kalo ngajak cewe belanja apa bukannya malah tambah boros? Kalo sendiri kita belinya cuma pakaian, kalo sama cewe beli pakaian, make up, majalah, makanan, cemilan, asesoris rambut, plus pas mau pulang dipaksa nonton 21…

  7. Itu mukena cuma dipake pas waktu shalat saja kan… kasian ngeliatnya, hehe.

    Nawar itu budaya sepertinya. Tapi hari gini, dimana waktu semakin mahal, kayaknya toko-toko yang menawarkan harga jelas jadi terlalu menarik. Ga pake nawar, label harga cocok ya langsung bayar trus pulang.

    Yang jadi masalah, kalau kita jadi pada ke toko-toko dengan label harga jelas itu, yang biasanya punya kapitalis gede dan mnc pula, gimana nasib pedagang kecil dan tradisional? Akankah makin terpinggirkan dan musnah? Lalu market hanya diisi oleh pemain bermodal raksasa?

    Pikiran jahat saya sih pengen komentar “Salah sendiri jualan pake harga ga jelas, niatnya mau dagang apa mau ngerampok orang?”

    Rrrr… saya ngomong apa yah.. ya sudah, yang penting ikutan komentar panjang.

  8. Memang perempuan udah punya kodrat seperti itu kayaknya, mending daripada ada tipe perempuan yang kalo masuk ke toko/distro malu nggak beli barang dagangan padahal dia sendiri tidak membutuhkannya

  9. Shock melihat komen-komen nan panjang dari para lelaki…

    @ Itikkecil

    kalau masih dikasih berarti kan masih untung….

    Nah… ini dia yang perlu diperhatikan, hwehehe…

    @ FaNZ
    Jadi? Pedagang sengaja menaikkan karena suka ditawar yah?

    @ Pakacil

    Laki² cuma males ribet.

    Tapi tidak semua juga kan? Ada beberapa laki-laki yang justru memilih yang “ribet-ribet” 😈

    Beda lagi kalau beli sayur dan sejenisnya, ga pake nawar, karena untung penjualnya sudah kecil, kasian.

    Yah, kalo yang ini saya juga setuju…

    Saya pernah beli jaket yg ditawarkan seharga 75rb, dealnya pada 15rb !!!

    Mengerikan…. 😥

    Yg saya tau adalah cerita dari salah satu GM jaringan retail nasional, bahwa profit mereka sesungguhnya diambil dari pembelian ke produsen, bukan hasil penjualan ke konsumen.

    Iya, mereka kan beli banyak, otomatis untung juga lebih banyak, sehingga margin yang dijual ke konsumen bisa sedikit ditekan…

    Menawar ga perlu malu, tapi lebih baik pakai trik khusus, terutama kalau menghadapi PKL di Kota tertentu yg konon suka coba memaksa calon pembeli yg terlanjur menawar.

    Iya sih, kadang rasa malu dan gengsi itu tidak beralasan, terutama untuk urusan tawar-menawar…

    *jadi ide tulisan nih kayaknya, trik menawar saya khusus untuk kasus macam ini*

    😛

    Panjang ya…
    bukan berarti doyan belanja lho..

    Tapi pastinya doyan menawar yah? 😆

    @ Hariesaja
    Ah, siapa bilang yang menghadiahi itu saya Om? :mrgreen: Jadi tidak perlu iri, saya juga hampir tidak pernah membelikan si kecil pakaian… habis di susu dan popok…

    @ Mr. Fortynine

    5 setengah tahun lamanya saya hidup bersama orang yang memiliki bakat dan keinginan luar biasa dalam hal tawar menawar harga. Bahkan saya sampai bosan jika harus ke pasar atau belanja bersamanya.

    Orang ini apakah yang mengirimi sms selamat ultah untuk saya beberapa hari yang lalu yah? :mrgreen:
    Kalo iya, apakah antum juga dapat sms senada? soalnya dulu tiap tahun… 😈

    lebih suka belanja ketempat tempat yang memang harganya sudah ditentukan. Contohnya ya minimarket.

    Ah, kalo banyak duwit sih memang ndak masalah untuk mengenyangkan kaum kapitalis itu :mrgreen:

    Yang jelas perempuan lebih berminat untuk menawar. Meski tidak menutup kemungkinan untuk kaum pria sebagai negotiator ulung.

    Sepertinya kaum pria-nya tawar menawar dulu dengan si perempuan ya? 😆

    Namun menurut informasi dari Wulan, di kota kelahirannya harga barang barang yang dijual di sini adalah 2 kali buka lipatan ketimbang harga sana. Sehingga saya mengendus adanya penggelembungan harga kepada barang barang ketika terpajang di toko atau Department Store. Mungkin ada banyak faktor di sana, termasuk didalamnya meninggikan harga guna mengaji pegawai, operasional toko. Atau memang ingin menerapkan sistem ekonomi kapitalisme secara kaffah.

    Lah, Kalimantan itu kan jauh dan luas, belum infrastruktur-nya yang masih menyedihkan. Lagipula di sini kan ekonominya biaya tinggi karena daerah ini kaya raya sehubungan dengan bertebarannya tambang-tambang di mana-mana…

    Dan sebenarnya ente kan punya kegiatan ekonomi di depan rumah di Bjm? Kenapa ga nanya sama Mama aja sekalian. :mrgreen:

    Nah itu dia, perasaan seumur-umur Mama ndak pernah naikin harga sampai segitu parahnya deh… tapi untuk urusan tawar-menawar, tetap saja beliau jagonya…

    *itu Nadira apa gagerah pakai mukena??*

    Gerah sih ndak, buktinya betah tidur di masjid… tapi setelah beberapa menit pasti mukenanya terbang entah ke mana…

    @ Syamsuddin Ideris

    Kalau di “banua lima” alias di Hulu Sungai Kalimanan Selatan jangan coba-coba menawar separo bisa-bisa penjual langsung mau. Karena rata-rata harga barang dipatok lebih dua kali lipat oleh penjual dari harga sebenarnya. Jadi pandai-pandai menawar saja.

    Semakin ke dalam, ternyata harga semakin menyeramkan ya Pak?

    Bila penjual mengatakan “ah nggak bisa, tambah dikit lagi lah..” itu artinya sebenarnya dia udah untung. Jadi bila penjual mengataka segitu jangan mau ditambah lagi harga beli kita karena “yakin dech” kalau kita pura-pura mau pergi maka akhirnya penjual berkata “OK dech segitu ya”.

    Tips yang sangat berharga, siap dipraktikkan… Makasih banyak Pak… :mrgreen:

    @ Teddy

    Solusi paling gampang ya ngajak cewek waktu mo belanja, kasih daftar belanjaan plus duit, kemudian biarkan sang dewi melakukan tugasnya 😆

    Ah, ini dia yang malas ribet…

    @ Aap
    Ya tuh, seingat saya, kata ibu saya, jangan menawar harga daging ayam kalau muka si penjual daging sudah jutek, salah-salah kita dilempar pisau… :mrgreen:

    @ ManusiaSuper

    *lirik komentar-komentar*
    Kok panjang-panjang ya??

    Saya juga heran…

    *lirik foto*
    Jangan disuruh jalan pake mukena malem-malem Ndul!

    Maksudnya apa hah? Hah? HAH?

    *lirik dompet*
    Ah, saya memang mesti belajar menawar…

    Menawar sama pedagang atau sama…

    Kalo ngajak cewe belanja apa bukannya malah tambah boros? Kalo sendiri kita belinya cuma pakaian, kalo sama cewe beli pakaian, make up, majalah, makanan, cemilan, asesoris rambut, plus pas mau pulang dipaksa nonton 21…

    Nasibmu, nak… :mrgreen:

    @ Awym
    Akhirnya ada yang berkomentar normal di sini… :mrgreen:

    @ Teddy & ManusiaSuper
    Ngapain sih sahut-sahutan di sini? kayak pasangan g*y aja 😈

    @ Guh

    Itu mukena cuma dipake pas waktu shalat saja kan… kasian ngeliatnya, hehe.

    Kenapa mas Guh? Fobia ya? Ho ho ho…

    Yang jadi masalah, kalau kita jadi pada ke toko-toko dengan label harga jelas itu, yang biasanya punya kapitalis gede dan mnc pula, gimana nasib pedagang kecil dan tradisional? Akankah makin terpinggirkan dan musnah? Lalu market hanya diisi oleh pemain bermodal raksasa?

    Konspirasi yang menarik kan? Itulah mungkin kenapa Kwitang pun sampai harus digusur…

    Pikiran jahat saya sih pengen komentar “Salah sendiri jualan pake harga ga jelas, niatnya mau dagang apa mau ngerampok orang?”

    Saya juga percaya dengan pernyataan “you get what you deserve…”

    Rrrr… saya ngomong apa yah.. ya sudah, yang penting ikutan komentar panjang.

    😐

    @ Momo22

    Ada tipe perempuan yang kalo masuk ke toko/distro malu nggak beli barang dagangan padahal dia sendiri tidak membutuhkannya

    Ada atau banyak? 😈

  10. Gak juga… Buktinya CR, CR adalah seorang cw tulen yang gak bisa banget dengan hal tawar-menawar. Pernah sich nawar. Harga awal misal 100, CR tawar 95 dengan memohon-mohon sebanyak 3x baru pedagang tersenyum mengiyakan. Itu aja udah merasa bangga bisa nawar, eh… esok harinya malah dibilang BEGO.Cape dech… mending yang pasti2 aza… tempat nyaman, model, warna, n kualitas gak diragukan, serta tanpa ngotot-ngototan n blm tentu kualitas bagus. tq

  11. cckkkk..ckk… Gile..para lelaki ini commentnya… Wew… hahhahaha… Iya, berasa dongkol aja kalo dapet harga mahal, padahal harusnya murah. Tapi salute buat para lelaki yang betah menemani cewek belanja. hihiiihi… (dah lama muter-muter,terancam buat bayarin pula.. Yaaaaaks…)

  12. Saya jadi ingat sebuah lelucon 😆 :

    Pria akan rela membayar 2$ demi barang seharga 1$, kalau barang itu memang ia perlukan.

    Sebaliknya, wanita ngotot mengeluarkan 1$ demi barang seharga 2$, meski itu tidak ia perlukan.

  13. @ cK
    Kalo yang ini berapa “nilai”nya Mbak? :mrgreen:

    @ Mr. Fortynine
    *Ngelirik komentar…*
    Ah, pasangan yang serasi…

    @ Chesya31
    Ah, yang harganya pasti juga belum tentu kualitasnya baik kan? Hayooo…

    @ Sarah Luna
    Ancamannya dobel ya? Ho ho ho.

    @ Catshade
    Jadi intinya di “ngotot”nya itu ya? 😀

  14. kalau gue sih kaga banyak nawar sama pedagang, yang ramah sebab gue liat2 orang yang dagang kesan pertamanya sama gue, ya penampilan pakaiannya sederhana (gak usah rapih yang penting enak di pandang, biasa aja) dan bahasanya yg penting ada senyum,salam,sapa,sopan,santun. kalau yang dagang sopan/ramah gue kaga nawar biar pun tidak butuh, karena gue merasa di layani dengan baik,nyaman dan rejeki orang baik selalu ada sebab gue punya mental lebih baik memberi dari pada menerima. tapi kalau harganya tidak terjangkau sama gue, ya gue ucapin terima kasih dan niat kalau ada rejeki dan gue ciriin dan bilangin ke temen2 kalalu ketemu lagi gue mau beli. TAPI KALAU YANG PEDAGANGNYA JUDES,MAKSA DAN NGEBOHONGIN PRODUK, BIARPUN MURAH KAGA GUE BELI. TERMASUK JUGA PEDAGANG YANG PENAMPILANNYA KAYA (maaf) PEREMAN ATAU PELACUR (ngebanggain tato di pamerin,model rambutnya aneh,tindikannya buanyak,pakaiannya kaya orang putus asa,pamer aurat) DAN KAYA JAGOAN, BIARPUN DIE RAMAH NAWARIN DAGANGANNYA ATAU MURAH ATAU GUE BUTUH TETAP KAGA GUE BELI, SEBAB GUE NGERI, TAKUT ADA MAKSUD BURUK DI BALIK DAGANGANNYA APALAGI SAMPAI MENAWAR HARGANYA IHH JUSTRU ORANG KAYA GITU GUE JAUHIN. emang sih ada juga pedagang yang penampilannya kaya (maaf) preman atau pelacur tapi hatinya baik… cuman kan bagi yang sudah tahu/kenal siapa dia. sebab penilaian dan selera orang berbeda2 apalagi baru pertama bertemu karna penampilan seperti (maaf) preman dan pelacur itu sudah universal lambang standar kriminalitas,kejahatan,dan asusila. mohon maaf ya kalau ada comment saya yang salah 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *