Mencoba MX Linux

Ketika ganti mesin, SSD sepenuhnya saya format sebagai partisi sistem, sementara Harddisk lama dijadikan penyimpanan utama. Nah, di HDD sebenernya masih ada partisi kosong bekas instalan Ubuntu. Di sinilah saya kepikiran untuk menambahkan satu distro sebagai sarana eksperimen.

Pertanyaannya, mau pakai distro apa?

Yang langsung terpikir adalah MEPIS; rasanya kepingin bernostalgia dengan distro pertama saya. Sayangnya, ternyata MEPIS ini sudah tak rilis lagi sejak 2013. Opsi kedua, karena kadung jatuh hati pada Manjaro, jadi mau nyoba Arch murni. Hanya saja, begitu nonton tutorial instalasi-nya, saya langsung mundur teratur.

Bagaimana kalau Debian? Meski tak se-mengerikan Arch, saya masih saja tak berani coba menginstalnya, takut kurang pengalaman lalu berantakan. Target pun saya ganti: turunan Debian saja, tapi bukan Ubuntu.

Kalau dilihat di situs DistroWatch, ada semacam ranking OS paling “dicari”. Sejak 2019 hingga sekarang, posisi nomor satu dipegang oleh MX Linux. Tentu daftar tersebut tak bisa jadi patokan bahwa MX merupakan distro paling populer apalagi paling hebat, tapi tak urung bikin penasaran juga, apa sih bagusnya OS satu ini.

Setelah gugling, ternyata MX ini semacam “spiritual successor” dari MEPIS. Tambah semangatlah saya melipir ke situsnya. Ada pilihan versi KDE atau XFCE, dan saya pilih versi XFCE plus dukungan “Advanced Hardware Stack” (AHS) agar PC saya yang mayoritas komponennya baru semoga tak bermasalah dengan driver segala macem.

ISO kelar di-download, bootable USB rampung, dan proses instalasi pun mulai jalan.

Masalah #01: Tak bisa menginstall bootloader

Deg. Ini saya yang salah langkah atau kenapa, tapi installer-nya tak mendeteksi partisi bootloader. Padahal saya seperti biasa, sudah bikin tiga partisi di GParted: EFI bootloader, Root, sama Swap. Root dan Swap bisa dipakai, tapi yang bootloader tak terbaca.

Bingung juga ini ngakalinya gimana. Opsi format habis HDD tentu tak mungkin dilakukan, mengingat partisi sebelahnya adalah kumpulan data penting. Akhirnya setengah nekad, saya pilih opsi: tidak menginstal bootloader dulu. Katanya sih nanti bisa diperbaiki lewat Live USB.

Selesai instalasi, reboot sistem, dan seperti sudah diduga, gagal booting. Sesuai petunjuk hasil gugling, saya colok lagi Live USB, pilih boot repair, dan masalah untungnya teratasi. MX Linux terbaca di GRUB dan proses boot berjalan normal. Saatnya bereksplorasi.

Masalah #02: XFCE, duh

Tampilan MX Linux dengan antarmuka XFCE.

Kesan pertama melihat tampilan XFCE, mohon maaf, tapi langsung mikir: “OMG, it’s so ugly…” Akan tetapi, penampilan tentu bukan hal yang utama karena saya yakin keunggulan XFCE itu di ringan dan lancarnya pemakaian.

Proses install-uninstall aplikasi berjalan lumayan mulus. MX Package Installer cukup membantu dengan koleksi aplikasi yang kaya (ya wajar, turunan Debian, ‘kok). Aplikasi bawaan cukup banyak juga ternyata, dan buat saya kok sudah masuk tahap “bloated“, berlebihan jumlahnya, Sebagian yang saya yakini aman untuk dihapus, saya uninstall.

Sedikit tweaking di penampilan, dan apa boleh buat, kayaknya memang XFCE bukan desktop environment yang tepat buat bersolek. Mari membahas beberapa keluhan lain yang cukup mengganggu buat saya:

  1. Prosedur Print Screen yang bertele-tele. Saya yang sudah terbiasa pencet tombol PrtSc atau Shift+PrtSc cukup terganggu ketika harus klak-klik dulu pilih sana-sini baru dapat menangkap layar. Tidak praktis.
  2. Manajemen sound yang agak rumit. Berhubung saya pakai Speaker dan Mikrofon yang terpisah, pemilihan mixer jadi agak ribet. Makin membingungkan ketika saya mencolok headset baru. Di Manjaro, itu semua tinggal dikelola lewat Settings>Sound.
  3. Keyboard shortcuts. Ini benar-benar deal breaker, karena saya biasanya memasukkan beberapa shortcut seperti Super/Win+D untuk minimize semua aplikasi. Di XFCE, saya kesulitan mengaturnya.

Jadi gimana ini, masa batal pakai MX sih?

Tentu tidak. Ini saatnya saya bereksperimen lebih jauh: menginstall Desktop Environment 😀

Kebetulan, di MX Package Installer, kita tinggal conteng DE yang mau kita pasang. Ada pilihan mau pakai Budgie, KDE, LXDE atau MATE. Saya masih main aman ini, tentu memilih Gnome. :))

Setelah instalasi kita tinggal logout, dan di menu login, sudah ada pilihan DE yang mau kita gunakan. Saya pun beralih ke Gnome, yang sepertinya merupakan versi vanilla-nya. Tampilannya mirip Ubuntu pas pertama diinstall.

Tampilan MX Linux setelah beralih ke antarmuka Gnome Base

Meski memang tak se-polished Ubuntu atau Manjaro, tampilan Gnome MX jauh lebih nyaman lah dilihat dibanding XFCE. Fungsi-fungsi yang biasa saya pakai juga bisa langsung jalan. Print screen tinggal pencet, sound tinggal pilih di Settings, dan semua keyboard shortcut yang biasa saya pakai bisa langsung ditambahkan.

Keuntungan lainnya, Droidcam yang di Manjaro gagal instal, berjalan mulus di MX. Jadi kalau saya mau pakai Zoom, di MX sepertinya bisa lebih nyaman.

Tapi etapi, entah kenapa, banyak perkakas, seperti MX Package Installer dan Synaptic, yang tak bisa jalan di Gnome. Jadi kalau mau instal-instal, saya harus balik dulu ke XFCE. Instalasi lewat Terminal memang masih bisa, tapi kayak banyak peringatan aneh-aneh gitu, takutnya tak sempurna instalan-nya. Intinya, Gnome ini cuma tinggal pakai aja. Pengelolaan sistem itu urusan XFCE.


Demikianlah pengalaman saya bereksperimen di MX Linux. Masih banyak aplikasi bawaan yang saya nggak ngerti fungsinya apa, tak berani pula saya hapus, dan sebagian tak jalan di Gnome. Ini mengingatkan saya pada bejibunnya aplikasi di MEPIS dulu. Beberapa masalah, terutama di XFCE buat saya mengurangi kenyamanan pemakaian, tapi di Gnome untuk penggunaan harian kayaknya masih bisa diandalkan.

Bagi yang sudah biasa pakai Ubuntu atau distro berbasis Debian, perintah-perintah di terminal-nya tentu sama persis sehingga tak perlu penyesuaian seperti di Solus atau Manjaro. Kompatibilitas aplikasi juga lebih baik, mengingat repo Debian sepertinya bisa jalan semua di sini. Kalau kurang tinggal ambil di Flathub.

Target berikutnya, saya kepingin nyoba rasa lain yang ada di sini, seperti Budgie (dan membandingkannya dengan di Solus), MATE, dan yang akan menguji nyali saya: KDE…

Tampilan screenfetch MX Linux, dibaca sebagai Debian 10…
  1. halo..

    saya pernah pake mx linux, dan fiturnya terasa banyak sekali.

    anyway debian bisa diinstall sama gampangnya dengan distro lainnya, dengan cara memilih debian live. tinggal next next sampai selesai. tapi akan ada aplikasi bawaan seperti firefox dkk ikut terinstall di sana.

    1. Halo Mas.
      Setuju banget soal MX yang “bloated” itu. Spirit MEPIS dulu juga gitu lho, seingat saya dulu aplikasinya bejibun juga.

      Iya saya masih mempertimbangkan pakai Debian murni, tapi ya itu, saya ini orangnya penakut, kurang berani ambil resiko, hehe…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *