01 – Describing Personality

Yes, I love Ravenclaw House a lot!

Duh, saya nggak suka nih topiknya.

Entah kenapa, saya lebih suka mendengar orang lain bercerita soal dirinya, ketimbang membicarakan diri sendiri. Saya juga lebih suka membahas hal di sekitar yang saya temui, ketimbang apa yang saya rasakan. Bahkan di blog, makin ke mari saya juga makin jarang curhat, lebih suka membahas hobi, kesibukan, dan oprekan PC.

Jadi mau bahas apa di sini?

Sebagai awalan, saya ISFJ. Saya cenderung introvert, terutama kalau ketemu orang baru. Saya bisa se-awkward Ross Geller ketika baru kenalan. Situasi pandemi dan keharusan WFH ini juga diam-diam saya embrace karena tak perlu ketemu orang banyak.

Saya juga pemalas parah. Kalau udah nggak suka atau tak berminat, apapun itu bisa tak saya kerjakan. Kalaupun dikerjakan ya seadanya saja. Contohnya sekarang, nggak mau ngurus kenaikan pangkat karena menurut saya syarat-syaratnya wagu.

Beda kasus kalau udah yang sesuai minat. Jika sudah tertarik dengan suatu hal, saya tak bosan menguliknya. Yang terbaru, ketika kecebur di dunia Linux, saya bener-bener kemaruk nyobain distro, subscribe banyak kanal YouTube pegiat Linux, dan gabung ke forum dan Reddit yang membahas platform itu.

Saya juga cenderung mudah nge-judge orang, yang saya sadari kurang baik. Jadilah saya berusaha semaksimal mungkin untuk reserving judgement kalau melihat sesuatu yang buat saya cringy. Berusaha berpikir positif, walau kalau prasangka saya bener, nada sinis tak urung kerap terlontar.

Iya, sinis, sarkastik, pedes; bagi yang sudah kenal mungkin tak asing lagi dengan sikap saya yang begini. Saya bisa se-sarkas Chandler Bing kalau udah ngasih komen. Paling sering, di grup WA sekolah jika ada yang berani bagiin hoax, siap-siap aja dibabat. Kalau udah begitu saya kadang udah nggak peduli status atasan/bawahan atau senior/junior.

Etapi saya kadang bisa juga se-soswit Joey Tribbiani, terutama ke murid-murid saya yang padahal bandelnya kadang nauzubillah… Entah kenapa kalau sama mereka saya justru bisa lebih cepat akrab. Mereka buat saya kadang lebih gampang diajak bicara ketimbang orang dewasa dengan segudang topengnya.

Terakhir, saya sangat subyektif dan kadang kalau bikin keputusan malah kurang rasional. F-nya ISFJ itu kayak mendominasi, sehingga saya seringkali tak terlalu peduli untung rugi. Kalau suka ya suka banget, kalau tak suka ya tak bakal peduli. Makanya lah saya tak bakat jualan apapun, juga saya pebelanja yang buruk dan impulsif. Pilihan klub bola juga bukan cari yang paling besar atau paling hebat. Genre musik, musisi, atau film juga gitu, bukan yang paling hype atau tenar. Alasannya tak bisa dirunut rinci, tapi kalau udah suka ya sulit untuk berpaling, sesederhana itu.


Ya udah, segitu dulu untuk postingan pertama di tigapuluh tantangan nulis ini. Semoga tak terlalu banyak yang terumbar, malu juga soalnya, he.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *